Budayawan Soroti Paramasastra Jaga Identitas Bahasa Jawa

  • 12 Apr 2026 20:40 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Eksistensi bahasa Jawa di era modern menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Menjawab tantangan tersebut, program Apresiasi Budaya Tanjung Perak Malam di Pro 4 RRI Surabaya hadir menemani pendengar pada edisi Minggu malam (12/4), dengan mengupas tuntas topik Paramasastra.

Hadir sebagai narasumber, praktisi sekaligus pengamat budaya Jawa, Cak Ries Handana. Dalam balutan obrolan santai khas Surabaya, ia menekankan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas jati diri bangsa.

Bagi banyak orang awam, istilah Paramasastra mungkin terdengar teknis. Namun, Cak Ries menjelaskan dengan sederhana bahwa ini adalah fondasi utama dalam berbahasa Jawa yang benar.

Definisi: Tata bahasa dalam bahasa Jawa yang mengatur tatanan penulisan dan pengucapan.

Cakupan: Meliputi panyerat (penulisan), pangucap (pelafalan), hingga penggunaan tembung (kata) yang tepat sesuai konteksnya.

"Belajar Paramasastra itu ibarat belajar pondasi bangunan. Kalau pondasinya kuat, kita tidak akan bingung saat harus menempatkan diri, kapan menggunakan bahasa Ngoko dan kapan harus Krama Inggil," kata Cak Ries di studio Pro 4 RRI Surabaya.

Dalam dialog tersebut, Cak Ries menyoroti fenomena pergeseran bahasa di media sosial. Banyak anak muda yang memahami kosakata Jawa, namun kehilangan arah dalam penerapan Unggah-Ungguh (etika berbahasa).

Beberapa poin penting yang dibahas antara lain:

Kesalahan Kaprah: Penggunaan kata yang sering terbalik antara untuk diri sendiri dan untuk orang tua.

Logika Bahasa: Bagaimana struktur bahasa Jawa mencerminkan rasa hormat dan tata krama masyarakatnya.

Solusi: Membiasakan kembali penggunaan bahasa Jawa yang "empan papan" (sesuai tempat dan situasi) mulai dari lingkungan keluarga.

Program yang dipandu dengan interaktif ini memancing beragam respons dari pendengar setia Pro 4 RRI Surabaya, baik melalui telepon maupun pesan singkat. Banyak pendengar yang mengapresiasi pembahasan ini sebagai pengingat agar bahasa daerah tidak tergerus zaman.

Di akhir sesi, Cak Ries berpesan agar masyarakat tidak perlu takut salah dalam memulai kembali belajar bahasa Jawa yang benar.

"Jangan malu belajar lagi. Paramasastra itu bukan untuk mempersulit, tapi untuk memperindah cara kita berkomunikasi dan menghargai sesama," katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....