Jadi Relawan Tak Harus Tunggu Bencana, Kepedulian Bisa Dimulai dari Sekitar

  • 22 Sep 2026 18:42 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan masih menjadi tantangan di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari. Tidak sedikit masyarakat yang sebenarnya memiliki keinginan untuk membantu, namun belum mengetahui bentuk kontribusi yang dapat dilakukan atau merasa kegiatan kerelawanan membutuhkan waktu dan kemampuan khusus.

Dalam dialog Kentongan, Pro 1 RRI Surabaya, Selasa, 22 September 2026, Ketua Surya Bhirawa Rescue Atfiah El Zam Zami mengatakan kerelawanan pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan keterlibatan dalam penanganan bencana maupun keadaan darurat. Tindakan sederhana seperti membantu masyarakat yang membutuhkan, memberikan informasi yang bermanfaat, membantu kegiatan lingkungan, hingga ikut serta dalam kegiatan sosial juga dapat menjadi bentuk kepedulian.

"Saya ingin mengajak masyarakat untuk memahami bagaimana pentingnya peran individu dalam membantu sesama dan membangun kepedulian sosial di lingkungan masing-masing. Karena untuk menjadi relawan, tidak harus menunggu bencana datang. Banyak hal positif yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama. Itu juga merupakan wujud dari relawan," ujarnya.

Atfiah Zam Zami menjelaskan kesempatan untuk menjadi relawan sebenarnya terbuka bagi berbagai kalangan. Seseorang dapat berkontribusi berdasarkan waktu, tenaga, pengetahuan, maupun keterampilan yang dimiliki. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun kesadaran bahwa menjadi relawan tidak selalu harus dilakukan dalam kegiatan besar. Kepedulian terhadap sesama dapat dimulai dari lingkungan terdekat, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

"Kegiatan kemanusiaan juga membutuhkan kesiapan. Relawan yang terlibat dalam situasi tertentu perlu memahami cara berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, menjaga keselamatan diri, serta mengetahui batas kemampuan ketika memberikan pertolongan. Hal ini juga penting, agar niat membantu dapat diwujudkan secara tepat dan tidak justru menimbulkan risiko bagi relawan maupun masyarakat yang mendapatkan bantuan," jelasnya.

Keberadaan komunitas dan organisasi kerelawanan juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar sekaligus mengembangkan kepedulian sosial. Melalui kegiatan bersama, masyarakat dapat memperoleh pengalaman mengenai bagaimana menghadapi berbagai kondisi dan bekerja secara terkoordinasi.

Namun, membangun budaya kerelawanan tidak hanya menjadi tanggung jawab organisasi sosial. Keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas, hingga masyarakat secara umum memiliki peran dalam menanamkan kebiasaan saling membantu.

Terlebih bagi generasi muda, pengalaman menjadi relawan dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung. Keterlibatan tersebut juga dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

"Semangat kerelawanan juga dapat diperkuat melalui pemanfaatan media sosial. Informasi mengenai kegiatan sosial, kebutuhan bantuan, maupun edukasi kebencanaan dapat disebarluaskan kepada masyarakat secara lebih luas. Meski demikian, informasi yang disampaikan perlu dipastikan kebenarannya agar masyarakat tidak menerima informasi yang keliru. Itu juga bagian dari tugas relawan," ujarnya.

Menjadi relawan tidak harus menunggu seseorang memiliki banyak waktu, kemampuan tertentu, ataupun berada dalam sebuah organisasi. Kepedulian dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan masing-masing. Dengan keterlibatan lebih banyak masyarakat, kepedulian sosial diharapkan tidak berhenti pada ajakan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....