Museum W.R. Soepratman Jadi Ruang Belajar Siswa

  • 23 Agt 2026 10:51 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Sejarah perjuangan bangsa tidak hanya dipelajari melalui buku pelajaran, namun bisa juga dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Hal inilah yang dilakukan Phio, siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage, Sidoarjo, saat berkunjung ke Museum W.R. Soepratman dan Makam pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya tersebut di Surabaya, Minggu, 23 Agustus 2026.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok Wage Rudolf Soepratman, tokoh yang tidak hanya dikenal sebagai komponis, tetapi juga sebagai wartawan sekaligus pejuang pergerakan nasional melalui karya dan pemikirannya. Phio, mengaku mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru dari kunjungan tersebut.

Ia mengenal lebih dekat sosok W.R. Soepratman yang selama ini dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Saya jadi tahu lebih banyak tentang W.R. Soepratman. Ternyata beliau berjuang untuk Indonesia melalui lagu dan musik,” ujar Phio.

Museum W.R. Soepratman yang berada di Jalan Mangga Nomor 21, Tambaksari, Surabaya, merupakan rumah milik kakak W.R. Soepratman, Roekiyem Soepratijah. Di rumah inilah W.R. Soepratman tinggal sejak 1937 hingga akhir hayatnya pada 17 Agustus 1938.

Museum tersebut kemudian menjadi ruang untuk mengenang perjalanan hidup dan perjuangannya. Pemandu wisata, Nauval, menjelaskan berbagai kisah yang berkaitan dengan kehidupan W.R. Soepratman kepada para pengunjung.

Mulai dari perjalanan hidup, aktivitasnya sebagai wartawan, kecintaannya terhadap musik, hingga perjuangannya menumbuhkan semangat kebangsaan melalui lagu. Salah satu bagian penting yang dikenalkan dalam kunjungan tersebut adalah perjalanan lahirnya lagu “Indonesia Raya”.

Kepahlawanan W.R. Soepratman tidak dilakukan melalui pertempuran bersenjata. Ia menggunakan musik, tulisan, dan gagasan kebangsaan sebagai bagian dari perjuangan menghadapi penjajahan.

“Kami ingin anak-anak mengetahui bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. W.R. Soepratman menunjukkan perjuangan melalui musik, karya, dan semangat kebangsaan. Untuk itu, kami berharap, kunjungan ke museum ini tidak hanya memberikan pengetahuan sejarah, tetapi juga menanamkan nilai perjuangan kepada anak-anak.,” kata Nauval.

Selama berada di museum, para pengunjung mendapatkan penjelasan mengenai perjalanan hidup dan perjuangan W.R. Soepratman. Salah satu koleksi yang menjadi perhatian adalah replika biola yang merepresentasikan perjuangannya melalui musik.

Museum juga menyimpan dokumentasi teks lagu Indonesia Raya yang pernah dimuat dalam surat kabar Sin Po pada 1928.

Phio, saat berkunjung di makam WR. Soepratman. Foto: RRI/Dini.

Dari museum, pengunjung kemudian diarahkan untuk melanjutkan perjalanan menuju makam W.R. Soepratman di Pemakaman Umum Kapasan, Jl. Kenjeran, Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Surabaya. Di tempat tersebut, pengunjung dapat melihat secara langsung tempat peristirahatan terakhir tokoh yang selama ini mereka kenal melalui pelajaran sejarah dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lengkap dengan syair Indonesia Raya 3 stanza.

Suasana makam memberikan pengalaman yang berbeda. Jika di museum siswa melihat benda, foto, serta dokumentasi perjalanan hidup W.R. Soepratman, maka di makam mereka diajak untuk merenungkan pengorbanan seorang tokoh yang telah memberikan karya besar bagi bangsa.

W.R. Soepratman meninggal sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, yakni pada pada 17 Agustus 1938. Ia tidak sempat menyaksikan kemerdekaan yang selama hidupnya diperjuangkan melalui karya dan semangat kebangsaan.

Namun, warisannya terus hidup. Lagu “Indonesia Raya” yang diciptakannya kini menjadi lagu kebangsaan Indonesia dan dikumandangkan dalam berbagai momentum kenegaraan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....