Beda Keyakinan, Satu Kemanusiaan: Merawat Toleransi di tengah Keberagaman
- 11 Sep 2026 19:13 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam dialog Beranda Asta Cita” bertema “Beda Keyakinan, Satu Kemanusiaan”, Jum'at, 11 September 2026, Ketua PGIW Jawa Timur sekaligus tokoh rohaniwan Kristen Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP), Pdt. Andri Purnawan, S.Si., MTS mengatakan dalam membangun hubungan antarumat beragama, ada tiga bentuk dialog yang dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat, yakni Dialog Kehidupan, Dialog Karya, dan Dialog Iman.
"Pertama Dialog Kehidupan. Ini merupakan bentuk dialog yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat dari berbagai latar belakang agama dapat hidup berdampingan, saling menghormati, serta membangun hubungan yang harmonis di lingkungan keluarga dan masyarakat," ujarnya.
Perbedaan keyakinan tidak menghalangi seseorang untuk bertetangga, bekerja sama, saling membantu, dan menunjukkan kepedulian kepada sesama. Andri menjelaskan perbedaan keyakinan bukan alasan untuk kehilangan kemanusiaan.
"Kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab untuk menghargai dan mengasihi sesama," katanya.
Kemudian yang kedua, dijelaskan Andri, adalah Dialog Karya. Selain melalui kehidupan sehari-hari, kerukunan juga dapat dibangun melalui Dialog Karya. Dialog ini diwujudkan dalam kerja sama nyata untuk kepentingan bersama, seperti kegiatan sosial, kemanusiaan, pendidikan, lingkungan, maupun membantu masyarakat yang membutuhkan.
"Dengan bekerja bersama, masyarakat dapat menemukan banyak nilai yang menyatukan, meskipun memiliki keyakinan yang berbeda," ujarnya.
Dan yang ketiga adalah Dialog Iman. Di sinilah ruang untuk saling memahami keyakinan masing-masing dengan tetap menghormati batas dan identitas setiap agama. Andri menjelaskan dialog iman bukan bertujuan untuk menyeragamkan keyakinan, melainkan membangun sikap saling mengenal, menghormati, dan memahami perbedaan secara dewasa.
"Kita perlu lebih banyak ruang untuk bertemu, berdialog, dan mengenal satu sama lain. Ketika kita mau berjumpa dan mendengarkan, perbedaan tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan," ujarnya.
Ketiga bentuk dialog tersebut, Dialog Kehidupan, Dialog Karya, dan Dialog Iman dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang rukun. Dialog kehidupan mempertemukan masyarakat dalam keseharian, dialog karya mempertemukan mereka melalui kerja nyata, sedangkan dialog iman membuka ruang untuk saling memahami keyakinan.
Senada dengan hal tersebut, Pengurus Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP) Niken mengatakan kerja sama menjadi salah satu cara efektif untuk mempertemukan masyarakat yang berbeda latar belakang. Menurutnya, kerja sama dalam kegiatan kemanusiaan membuat masyarakat tidak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung.
"Merayakan perbedaan bukan berarti kita harus menjadi sama. Justru kita belajar untuk tetap menjadi diri sendiri sambil menghormati keberadaan orang lain," ujarnya.
Niken juga menjelaskan bahwa sikap saling menghargai dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun lingkungan tempat tinggal. Dengan adanya dialog dan interaksi secara langsung dinilai penting untuk mengurangi prasangka serta membangun pemahaman terhadap perbedaan.
Di sinilah wadah untuk memupuk toleransi dan empati di masyarakat. Sebab, adanya perbedaan bukan untuk menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi modal sosial untuk membangun kerja sama dan memperkuat persatuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....