Mengapa Hati Membatu? ketika Kesibukan dan Masalah Membuat Kepekaan Batin Memudar
- 14 Agt 2026 07:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Ada penyakit yang tidak terlihat oleh mata, tidak selalu terasa secara fisik, tetapi perlahan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Itulah yang sering disebut sebagai penyakit hati. Dalam dialog Mutiara Pagi Berjaringan Korwilnus X Jatim, Jumat, 14 Agustus 2026, Sekretaris PW Persis Jawa Timur, Ustaz Nur Adi Septanto, menjelaskan penyakit hati bukan sekadar persoalan perasaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, penyakit hati dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti iri, dengki, sombong, hasad, mudah marah, dendam, sulit memaafkan, merasa paling benar, hingga senang melihat orang lain mengalami kesulitan. "Yang membuat penyakit hati berbahaya adalah sering kali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalaminya. Kita mungkin dengan mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit menyadari bahwa di dalam diri sendiri ada rasa iri, kecewa, atau kebencian yang terus dipelihara," ujarnya.
Rasa iri, misalnya. Pada awalnya mungkin hanya muncul ketika melihat keberhasilan orang lain. Namun jika tidak dikendalikan, rasa tersebut dapat berkembang menjadi keinginan agar keberhasilan itu hilang. Begitu pula dengan dendam. Luka yang tidak diselesaikan dapat membuat seseorang terus membawa kemarahan, bahkan ketika orang yang dianggap menyakiti sudah tidak lagi memikirkannya.
Penyakit hati jika dibiarkan, ini juga dapat membuat hubungan antarmanusia menjadi renggang. Persahabatan bisa rusak karena iri, keluarga bisa terpecah karena ego, dan lingkungan kerja menjadi tidak nyaman karena seseorang merasa harus selalu lebih unggul dibandingkan orang lain.
"Menjaga hati membutuhkan keberanian untuk melakukan introspeksi. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar bahagia ketika melihat orang lain berhasil? Apakah kita mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan? Apakah kita bisa memaafkan orang yang pernah menyakiti? Dan yang paling penting, apakah kita masih memiliki empati terhadap kesulitan orang lain? " ujarnya.
Melembutkan hati, dijelaskan Ustaz Nur Adi, bukan berarti menjadi orang yang lemah. Justru dibutuhkan kekuatan untuk mengendalikan ego, menahan amarah, menghilangkan dendam, dan belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan kita. Sebab, ketika hati mulai dipenuhi iri, dendam dan kesombongan, yang pertama kali kehilangan ketenangan sebenarnya adalah diri kita sendiri.
Kerasnya hati dapat tumbuh secara perlahan ketika seseorang terlalu sering membiarkan dirinya larut dalam persoalan duniawi tanpa memberikan ruang untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. "Hati itu bisa menjadi keras ketika seseorang terus-menerus membiarkan dirinya dikuasai ego, amarah, dan kesibukan dunia. Karena itu, kita perlu memberi ruang untuk berhenti sejenak, melakukan introspeksi, dan kembali mengingat nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup," ujarnya.
Menurutnya, persoalan hati tidak selalu tampak dari perilaku seseorang secara langsung. Seseorang dapat terlihat baik-baik saja dari luar, namun menyimpan kekecewaan, kemarahan, maupun luka yang akhirnya memengaruhi cara dirinya memperlakukan orang lain.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah perkembangan teknologi dan media sosial. Arus informasi yang begitu cepat membuat masyarakat terbiasa memberikan respons secara spontan, termasuk ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Sikap mudah menghakimi, memperbesar kesalahan orang lain, serta sulit memaafkan dapat menjadi tanda bahwa seseorang perlu kembali melihat ke dalam dirinya sendiri. Untuk itu, dijelaskan Ustadz Nur Adi, perlunya menjadi muslim yang menjaga kondisi batin. Sebab, ketika hati tetap memiliki kepekaan, seseorang akan lebih mudah memahami orang lain, mengakui kesalahan, memaafkan, dan kembali memperbaiki diri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....