Mimpi, Perjuangan, dan Pengabdian Dokter Yovita Alviana

  • 15 Agt 2026 20:34 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Menjadi dokter bukan sekadar soal mengenakan jas putih dan menyandang gelar medis bagi dr. Yovita Alviana, S.Ked. Profesi tersebut merupakan buah dari perjuangan panjang menghadapi ketatnya persaingan pendidikan, tuntutan akademik, hingga tekad untuk mengabdi kepada masyarakat.

Dalam dialog Kesetaraan Gender, Sabtu, 15 Agustus 2026, dokter Yovita mengakui, menjadi dokter merupakan mimpi banyak orang. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan kedokteran. Persaingan yang ketat serta tuntutan akademik yang berat membuat perjalanan menuju profesi tersebut membutuhkan perjuangan luar biasa.

“Kalau dibilang mimpi, jadi dokter itu adalah mimpi banyak orang. Tapi tidak semua orang beruntung dan bisa masuk ke kedokteran. Kita akan bertarung dengan belajar yang sangat luar biasa, materi yang luar biasa. Bahkan jam tidur juga harus terbatas,” ujar Yovita.

Bagi Yovita, rasa lelah selama menjalani pendidikan hingga meniti karier sebagai dokter bukan alasan untuk menyerah. Setiap kali merasa lelah, ia berusaha kembali mengingat tujuan awal mengapa memilih profesi tersebut.

“Ketika lelah atau capek, aku selalu flashback apa tujuanku di sini, kenapa aku harus memulai karier dokter,” tuturnya.

Baginya, menjadi dokter juga memiliki makna pengabdian. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, terlebih karena profesinya berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat.

dr. Yovita Alviana saat berkunjung ke RRI Surabaya, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kepedulian tersebut tidak hanya ditujukan kepada pasien dengan penyakit tertentu. Menurut Yovita, persoalan kesehatan masyarakat sangat luas, termasuk masalah gizi buruk dan berbagai kondisi kesehatan lainnya yang membutuhkan perhatian serta penanganan.

Dalam menjalankan profesinya, Yovita menyadari bahwa suka dan duka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang dokter. Tantangan, kelelahan, dan berbagai situasi sulit harus dihadapi sebagai bagian dari tanggung jawab profesi.

“Suka duka itu pasti. Namanya juga dokter. Jadi mau tidak mau juga akan mengalami hal tersebut,” ujarnya.

Meski demikian, Yovita memilih untuk tetap bersyukur. Baginya, kesempatan menjadi seorang dokter merupakan amanah sekaligus profesi yang tidak mudah untuk dijalankan.

Perjalanan Yovita menjadi pengingat bahwa di balik profesi dokter terdapat perjuangan panjang, pengorbanan waktu, serta tanggung jawab besar terhadap kehidupan manusia. Mimpi yang dahulu diperjuangkan melalui keterbatasan waktu tidur dan beratnya materi pendidikan, kini diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat.

Untuk itu, Yovita berharap seluruh dokter yang telah berjuang dan mengabdikan diri untuk masyarakat serta negara senantiasa mendapatkan perlindungan dalam menjalankan tugasnya.

“Semoga semua dokter yang sudah berjuang dan mengabdikan diri untuk negara ini, diberikan perlindungan oleh Allah SWT,” ujarnya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....