Kesetaraan Gender Masih Menjadi Tantangan Perempuan Indonesia
- 11 Mei 2026 12:16 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Permasalahan kesetaraan gender masih menjadi isu yang dihadapi perempuan di berbagai sektor kehidupan. Mulai dari keterbatasan akses kepemimpinan, diskriminasi di lingkungan kerja, hingga tekanan sosial dalam menjalankan peran ganda, menjadi tantangan yang terus dirasakan hingga saat ini.
Dalam dialog “Kesetaraan Gender” pada program Surabaya Siang Ini, Senin, 11 Mei 2026, Septiyani, Direktur Administrasi 3 Ibu Semangat Indonesia Kuat (ISIK) menilai bahwa budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi posisi perempuan di masyarakat. “Perempuan sering kali dianggap hanya memiliki tanggung jawab pada urusan domestik, sementara peran strategis dan kepemimpinan lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Pola pikir ini masih ada dan masih berkembang di sebagian lingkungan masyarakat dan berdampak pada terbatasnya ruang bagi perempuan untuk berkembang,” ujarnya.
Septyani menjelaskan, selain menghadapi stigma sosial, perempuan juga dihadapkan pada tuntutan menjalankan peran ganda. Tidak sedikit perempuan yang harus menyeimbangkan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dengan pekerjaan profesional. Kondisi tersebut sering menimbulkan tekanan fisik maupun mental, terutama ketika perempuan dituntut untuk tetap produktif di tempat kerja sekaligus menjalankan tanggung jawab keluarga secara penuh.
“Perempuan kadang harus bekerja lebih keras untuk membuktikan kemampuan dirinya. Tantangan yang dihadapi bukan hanya berasal dari lingkungan kerja, tetapi juga dari pandangan sosial yang masih membatasi ruang gerak perempuan,” jelasnya.
Permasalahan lain yang turut disoroti adalah diskriminasi di lingkungan kerja. Padahal, isu kesetaraan gender bukan hanya tanggung jawab perempuan semata. Diperlukan dukungan dari keluarga, lingkungan kerja, institusi pendidikan, masyarakat luas dan pemerintah, khususnya dalam kesetaraan gender di dunia kerja dan juga terkait dengan kesejahteraan dan upah layak perempuan.
“Hingga saat ini, masih ada perempuan yang mengalami perbedaan kesempatan promosi jabatan, ketimpangan upah, hingga minimnya representasi perempuan pada posisi pengambil kebijakan. Kondisi tersebut membuat perjuangan menuju kesetaraan gender masih membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak,” ucapnya tegas.
Septyani menjelaskan pentingnya membangun tiga pilar kekuatan pemimpin perempuan, yaitu kepercayaan diri, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi. Ketiga hal tersebut dinilai menjadi modal penting bagi perempuan untuk menghadapi perubahan sosial, tantangan ekonomi, serta persaingan di dunia kerja yang semakin berkembang.
Selain itu, solidaritas antarperempuan juga dianggap penting untuk memperkuat posisi perempuan di tengah masyarakat. Melalui komunitas dan organisasi sosial, perempuan dapat saling mendukung, berbagi pengalaman, serta meningkatkan kapasitas diri melalui pelatihan dan edukasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....