Gupuh, Lungguh, Suguh: Kearifan Lokal untuk Perkuat Pariwisata Berkelanjutan
- 12 Sep 2026 16:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Pertumbuhan pariwisata di Jawa Timur tidak hanya menghadirkan peluang ekonomi, tetapi juga menimbulkan tantangan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal. Dalam dialog Beranda Asta Cita, Sabtu, 12 September 2026, Staf Pengajar Program Studi Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si., menilai bahwa pengembangan pariwisata perlu melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari keberlanjutan destinasi.
"Peningkatan kunjungan wisatawan perlu diimbangi dengan pengelolaan daya dukung destinasi agar aktivitas pariwisata tidak justru menimbulkan kerusakan lingkungan dan menghilangkan nilai-nilai budaya setempat," ujarnya.
Dalam dialog bertema “Sustainable Tourism: Menjaga Daya Dukung Lingkungan pada Destinasi Pariwisata di Jawa Timur”, Sri Endah menjelaskan, salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat. “Karena pendekatan ini menempatkan masyarakat lokal bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari proses pengelolaan destinasi sekaligus penerima manfaat kegiatan pariwisata,” ucapnya.
Selain memperhatikan aspek lingkungan dan ekonomi, keberlanjutan pariwisata di Jawa Timur juga dapat diperkuat melalui nilai-nilai budaya lokal. Sri Endah menjelaskan salah satunya adalah filosofi Jawa gupuh, lungguh, dan suguh yang menggambarkan tata cara masyarakat dalam menerima dan memperlakukan tamu.
"Gupuh dapat dimaknai sebagai sikap sigap, antusias, dan penuh perhatian dalam menyambut kedatangan tamu. Dalam konteks pariwisata, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui keramahan masyarakat kepada wisatawan sekaligus kesiapan pengelola dalam memberikan pelayanan yang baik," ujarnya.
Sementara lungguh berkaitan dengan bagaimana seseorang menempatkan diri dan menjaga sikap ketika menerima maupun berinteraksi dengan tamu. Nilai ini dapat diterapkan dalam hubungan antara masyarakat lokal, wisatawan, dan pelaku pariwisata dengan mengedepankan kesopanan, penghormatan, serta kesadaran terhadap norma dan budaya setempat.
Adapun suguh berarti memberikan atau menyajikan sesuatu kepada tamu sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan. Dalam pariwisata, konsep ini dapat diwujudkan melalui penyajian kuliner lokal, kerajinan, kesenian, maupun pengalaman budaya yang menjadi identitas masyarakat setempat.
Sri Endah menjelaskan ketiga nilai tersebut menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana wisatawan dan masyarakat dapat membangun hubungan yang saling menghargai. "Dengan demikian, wisatawan tidak semata-mata diposisikan sebagai konsumen yang datang untuk menikmati destinasi. Mereka juga diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang menghormati masyarakat, budaya, dan lingkungan setempat," ujarnya.
Penerapan filosofi gupuh, lungguh, dan suguh juga dapat menjadi pembeda bagi destinasi wisata di Jawa Timur. Keramahan masyarakat dapat dipadukan dengan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab sehingga pengalaman wisata tidak berhenti pada keindahan tempat, tetapi juga menghadirkan nilai budaya.
Sri Endah menegaskan keberhasilan pariwisata tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Karena destinasi yang berkelanjutan adalah destinasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, serta keberlangsungan budaya dan kehidupan masyarakat lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....