Kuliah ke Luar Negeri Tak Cukup Bermodal IPK, Tiga Diaspora Bagikan Strateginya
- 07 Sep 2026 13:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Melanjutkan studi ke luar negeri tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik. Calon mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan mencari informasi, memahami peluang pendanaan, membangun jejaring, serta mempersiapkan diri menghadapi perbedaan bahasa dan budaya.
Menjawab hal tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, mengadakan kegiatan sharing session bertajuk “Melangkah Mendunia: Cerita & Peluang Studi di Luar Negeri by PPI Dunia” yang digelar secara daring sebagai bagian dari rangkaian Energy to Resilience (E2R) Summer Academy 2026, Minggu, 6 September 2026. Lebih dari 400 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kegiatan tersebut.
Sesi ini menghadirkan tiga pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi di luar negeri, yakni Dandi Alvayed, kandidat doktor Teknik Perminyakan di King Fahd University of Petroleum & Minerals (KFUPM), Arab Saudi, M. Nur Ar Royyan Mas, mahasiswa program master di University of Bonn, Jerman, dan Abdul Rahman Alfarasyi, mahasiswa Ph.D. bidang Fisika di Suranaree University of Technology, Thailand.
Ketiga narasumber membagikan pengalaman mereka dalam menemukan peluang studi, mencari beasiswa, hingga mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akademik dan sosial di negara tujuan. Menurut M. Nur Ar Royyan Mas, informasi mengenai studi di luar negeri perlu dicari secara aktif dan tidak hanya bergantung pada informasi yang beredar di media sosial.
“Bagi calon mahasiswa, persoalan studi ke luar negeri tidak berhenti pada keinginan untuk berangkat. Salah satu tantangan awal adalah menemukan informasi yang tepat mengenai program studi, persyaratan universitas, hingga skema pendanaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, calon mahasiswa perlu melakukan riset terhadap universitas dan program studi yang dituju, termasuk memahami persyaratan serta peluang pendanaan yang tersedia. Sejumlah skema pendanaan dibahas dalam sesi tersebut, antara lain Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), DAAD untuk studi di Jerman, serta pendanaan langsung dari universitas seperti yang tersedia di KFUPM.
Selain mencari informasi, komunikasi dengan calon profesor pembimbing juga dinilai penting. Calon mahasiswa dapat menelusuri bidang penelitian profesor melalui Google Scholar dan membangun komunikasi melalui platform profesional seperti LinkedIn.
Sementara itu, Abdul Rahman Alfarasyi menyoroti pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi kehidupan di negara tujuan. Kemampuan bahasa, menurutnya, tidak hanya dibutuhkan untuk kepentingan akademik, tetapi juga untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Kesiapan bahasa juga harus menjadi perhatian. Bahasa Inggris dapat menjadi bahasa pengantar di sejumlah program, tetapi kemampuan menggunakan bahasa lokal seperti bahasa Jerman atau Arab dinilai membantu mahasiswa menjalani kehidupan sehari-hari, berinteraksi dengan masyarakat setempat, serta beradaptasi dengan lingkungan baru,” ujarnya.
Ia menjelaskan persoalan adaptasi tersebut semakin penting karena pengalaman studi di luar negeri tidak hanya menyangkut aktivitas akademik. Mahasiswa juga harus menghadapi perbedaan budaya, kebiasaan sosial, dan jarak dari keluarga.
Selain itu, tantangan juga dapat muncul setelah mahasiswa tiba di luar negeri. Perbedaan budaya atau culture shock, serta rasa rindu terhadap keluarga dan kampung halaman, menjadi bagian dari pengalaman yang perlu dipersiapkan.
Para narasumber menyarankan mahasiswa memanfaatkan jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di negara tujuan. Komunitas tersebut dapat menjadi ruang untuk bertukar informasi sekaligus memperoleh dukungan selama menjalani studi.
Sementara itu, proses seleksi universitas maupun beasiswa tidak semata-mata ditentukan oleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Pengalaman organisasi, kegiatan sosial dan kerelawanan, kemampuan beradaptasi, kualitas esai, serta rencana penelitian juga dapat memperkuat profil calon mahasiswa.
Dandi Alvayed mengatakan IPK memang penting, tetapi bukan satu-satunya aspek yang diperhatikan. Ia menilai calon mahasiswa tidak perlu menunggu seluruh persiapan sempurna untuk mulai mengejar kesempatan studi di luar negeri. Untuk itu, Ia mendorong peserta menetapkan tujuan, menemukan mentor, dan mengambil langkah kecil secara konsisten.
“Yang terpenting adalah mulai melangkah sekarang, sekecil apa pun, daripada menunggu semuanya sempurna,” ujar Dandi.
Menurut Dandi, langkah awal dapat dilakukan dengan menentukan negara dan program studi yang dituju, mencari informasi beasiswa, meningkatkan kemampuan bahasa, hingga membangun jejaring akademik. Sesi yang dipandu Fany Vanessa dari Universitas Indonesia tersebut menjadi bagian dari rangkaian E2R Summer Academy 2026. Program ini kini memasuki tahap penyelesaian tugas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....