Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Melalui Water Bombing

  • 22 Apr 2026 10:39 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Fenomena kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menjadi salah satu ancaman serius yang kerap terjadi saat musim kemarau ekstrem. Hal ini sebagaimana diuraikan oleh Suprapto, Ketua Tim Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, dalam dialognya di RRI Surabaya terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan melalui metode water bombing. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa kondisi kemarau panjang menyebabkan ketersediaan air menjadi terbatas, sehingga tanah dan vegetasi menjadi kering dan mudah terbakar.

Kondisi tersebut dipengaruhi dengan banyaknya material kering seperti pepohonan, ilalang, dan dedaunan yang menjadi bahan bakar alami. Situasi ini membuat api dapat dengan cepat menyebar ketika terjadi pemicu, baik disengaja atau tidak. Bahkan, sebagian besar kejadian kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh aktivitas manusia, yang menunjukkan pentingnya kesadaran dalam menjaga lingkungan.

Dalam upaya penanganan karhutla di wilayah Jawa Timur, berbagai langkah strategis telah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah bersama instansi terkait. Di antaranya melalui rapat koordinasi teknis dengan organisasi perangkat daerah serta BPBD kabupaten dan kota guna mengantisipasi dampak kekeringan. Selain itu, apel siaga gabungan juga dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Proses pemadaman karhutla dilakukan melalui dua metode utama, yaitu operasi darat dan operasi udara. Operasi darat dilakukan dengan menerjunkan tim langsung ke lokasi untuk memadamkan api. Sementara itu, operasi udara dilakukan dengan metode water bombing, yaitu penyiraman air dari udara menggunakan helikopter atau pesawat untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.

Metode water bombing menjadi salah satu strategi yang krusial dalam penanganan karhutla, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh tim darat. Dalam pelaksanaannya helikopter mengambil air dari sumber terdekat seperti danau, sungai, atau laut menggunakan alat khusus berupa bambi bucket, kapasitas alat ini bervariasi, mulai dari ribuan liter air yang kemudian dijatuhkan secara presisi ke titik api.

Proses penjatuhan air ini memerlukan keterampilan tinggi dari pilot, karena harus dilakukan pada ketinggian rendah dan dengan kecepatan tertentu agar air dapat tepat mengenai titik api. Ketepatan ini sangat penting untuk memaksimalkan efektivitas pemadaman dan mencegah api menyebar lebih luas.

Meski demikian, pelaksanaan water bombing tidak lepas dari berbagai tantangan di lapangan. Kondisi cuaca seperti kabut di daerah pegunungan dapat menghambat proses penerbangan dan penjatuhan air. Selain itu, jarak sumber air yang jauh, kondisi medan yang terjal, serta angin kencang yang berubah arah juga menjadi faktor yang memperumit proses pemadaman.

Sebagai penutup, disampaikan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Selian kesiapan teknis dan strategi penanganan, kesadaran masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya karhutla. Dengan demikian, upaya pencegahan dan penanganan yang terpadu diharapkan dapat meminimalisir dampak kebakaran hutan dan lahan di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....