BMKG: Musim Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal di Sebagian Wilayah Indonesi
- 08 Mar 2026 06:56 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika / BMKG) memberikan sinyal bahwa musim kemarau tahun 2026 di Indonesia diperkirakan akan datang lebih awal di sejumlah wilayah. Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan resmi akun media sosial @InfoBMKG yang memuat perbandingan prediksi awal musim kemarau 2026 terhadap kondisi normalnya.
Berdasarkan analisis BMKG, sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia atau 325 Zona Musim (ZOM) diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya. Sementara itu, 24,7 persen wilayah (173 ZOM) diperkirakan mengalami awal musim kemarau sesuai dengan kondisi normal, dan 10,3 persen wilayah (72 ZOM) diprediksi mengalami kemunduran atau datang lebih lambat dari biasanya.
BMKG memetakan waktu awal kemarau di berbagai wilayah di Indonesia. Pada April 2026, sekitar 114 Zona Musim (16,3 persen) diprediksi sudah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi: pesisir utara Jawa Barat, sebagian besar wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian kecil Bali, sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Kalimantan Selatan, serta sebagian kecil Sulawesi Selatan.
Selanjutnya pada Mei 2026, sekitar 184 Zona Musim (26,3 persen) wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau. Daerah yang termasuk dalam periode ini antara lain sebagian wilayah di Sumatera, wilayah barat Jawa, sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian wilayah Bali, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat, wilayah selatan Kalimantan, sebagian kecil Sulawesi, sebagian wilayah Maluku, serta sebagian wilayah Papua.
Sementara itu pada Juni 2026, sekitar 163 Zona Musim (23,3 persen) wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Sumatera, sebagian kecil wilayah Jawa, sebagian besar Kalimantan, beberapa wilayah Sulawesi, sebagian Maluku, serta sebagian wilayah Papua.
BMKG juga memprediksi sifat musim kemarau 2026 dibandingkan dengan kondisi normal. Hasil analisis menunjukkan: 451 ZOM (64,5 persen) diprediksi mengalami kemarau bawah normal atau lebih kering dari biasanya. 45 ZOM (35,1 persen) diperkirakan normal. 3 ZOM (0,4 persen) diprediksi mengalami kemarau atas normal atau lebih basah dari biasanya.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kondisi kemarau lebih kering pada sekitar Juli 2026 antara lain sebagian Sumatera, wilayah tengah dan utara Kalimantan, sebagian kecil Jawa, sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, wilayah utara Sulawesi Barat, sebagian Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara, sebagian wilayah Maluku, serta wilayah Papua Barat bagian tengah dan Papua bagian timur.
BMKG juga enjelaskan bahwa suatu wilayah dinyatakan telah memasuki musim kemarau apabila: Jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh dua dasarian berikutnya. Jumlah curah hujan dalam tiga dasarian (30 hari) kurang dari 150 milimeter.
Awal musim kemarau dapat terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dibandingkan kondisi normal yang dihitung berdasarkan rata-rata klimatologis selama 30 tahun.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi kondisi musim kemarau. Meskipun curah hujan diperkirakan akan berkurang, suhu udara berpotensi menjadi lebih tinggi dan kondisi lingkungan bisa lebih berdebu.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat dianjurkan untuk: menjaga kecukupan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi, menggunakan pelindung kulit seperti tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap debu dan potensi kebakaran lahan yang biasanya meningkat saat musim kemarau.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui situs resmi maupun aplikasi InfoBMKG agar dapat melakukan langkah antisipasi secara lebih dini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....