Anak Muda Madura Merantau atau Membangun Daerah ?
- 20 Apr 2026 11:06 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID – Surabaya, Fenomena merantau di kalangan anak muda Madura menjadi salah satu isu sosial-ekonomi yang menarik untuk dikaji. Hal tersebut diuraikan dalam materi bertajuk “Anak Muda Madura: Merantau atau Membangun Daerah” oleh Mohammad Naufal Abror, Dosen FEB UNIBA Madura Sumenep, dalam dialog Ekonomi di RRI Surabaya. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa tradisi merantau telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep.
Fenomena merantau tidak lagi sekadar pilihan sementara, melainkan telah berkembang menjadi pola mobilitas yang bersifat struktural dan berlangsung lintas generasi. Dalam banyak keluarga, memiliki anggota yang bekerja di luar daerah, baik di tingkat regional, nasional, hingga internasional, merupakan hal yang lumrah. Bahkan, kondisi ini sering kali dianggap sebagai strategi ekonomi keluarga dalam meningkatkan kesejahteraan.
Secara ekonomi, keputusan untuk merantau dinilai sebagai bentuk rasionalitas individu dalam merespons keterbatasan peluang di daerah asal. Minimnya lapangan kerja, rendahnya tingkat upah, serta terbatasnya akses pengembangan diri menjadi faktor utama yang mendorong anak muda untuk mencari peluang di luar daerah. Di sisi lain, wilayah perkotaan menawarkan kesempatan yang lebih luas, jaringan sosial yang lebih besar, serta potensi peningkatan ekonomi yang lebih menjanjikan.
Dari perspektif ekonomi regional, fenomena merantau juga memberikan dampak positif, salah satunya melalui aliran remitansi. Dana yang dikirimkan oleh para perantau kepada keluarga di daerah asal mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Remitansi tersebut umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi, pendidikan, hingga perbaikan kualitas tempat tinggal. Dalam beberapa kasus, remitansi bahkan menjadi sumber utama dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
Namun demikian, fenomena ini juga menimbulkan tantangan tersendiri bagi pembangunan daerah. Tingginya mobilitas tenaga kerja produktif ke luar daerah berpotensi menimbulkan fenomena brain drain, yaitu berkurangnya sumber daya manusia berkualitas di wilayah asal. Kondisi ini berdampak pada rendahnya tingkat inovasi, terbatasnya produktivitas lokal, serta lambatnya perkembangan ekonomi daerah.
Selain itu, ketergantungan terhadap remitansi juga dapat mempengaruhi struktur ekonomi lokal. Masyarakat cenderung mengandalkan pendapatan dari luar daerah dibandingkan mengembangkan potensi ekonomi yang ada di daerahnya sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menghambat kemandirian ekonomi serta melemahkan daya saing daerah.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan dilema antara pilihan merantau dan membangun daerah. Di satu sisi, merantau menjadi langkah strategis bagi individu untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun di sisi lain, keluarnya sumber daya manusia produktif justru dapat memperlambat proses pembangunan di daerah asal.
Dalam hal ini, ditegaskan bahwa merantau bukanlah fenomena yang perlu dibatasi, melainkan perlu dikelola secara strategis. Pengalaman, keterampilan, serta wawasan yang diperoleh selama merantau diharapkan dapat kembali memberikan kontribusi bagi daerah asal. Konsep ini dikenal sebagai reverse contribution, yaitu kembalinya kontribusi perantau dalam mendukung pembangunan daerah.
Upaya tersebut memerlukan penguatan pada sektor sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar, serta penguatan karakter adaptif dan inovatif menjadi faktor penting dalam mendukung pembangunan. Peran pemerintah dan institusi pendidikan juga sangat dibutuhkan dalam menciptakan generasi muda yang kompetitif dan berdaya saing tinggi.
Di era digital saat ini, perkembangan teknologi informasi juga membuka peluang baru bagi generasi muda untuk tetap produktif tanpa harus meninggalkan daerah asal. Pemanfaatan platform digital memungkinkan terciptanya peluang usaha dan pekerjaan yang lebih fleksibel. Hal ini menjadi peluang strategis dalam mengintegrasikan pembangunan daerah dengan kemajuan teknologi.
Sebagai penutup, ditegaskan bahwa pembangunan daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda. Merantau tetap menjadi pilihan yang sah dalam meningkatkan kesejahteraan individu. Namun, orientasi jangka panjang yang perlu dibangun adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah.
Dengan demikian, keberhasilan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki dan dikelola secara optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....