MPLS Ramah 2026: Praktik Baik Menguat, Pelanggaran Masih Jadi Pekerjaan Rumah
- 25 Jul 2026 13:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 dinilai telah menunjukkan banyak kemajuan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, di balik berbagai praktik baik yang diterapkan sekolah, masih ditemukan sejumlah persoalan yang memerlukan perhatian serius, mulai dari masih adanya potensi perundungan atau bullying, minimnya pemahaman tentang hak anak, hingga pelaksanaan MPLS yang belum sepenuhnya berorientasi pada pembentukan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.
Dalam dialog Beranda Asta Cita Indonesia Cerdas Pro 1 RRI Surabaya, Jum'at, 24 Juli 2026, Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur sekaligus Dosen FKIP Unika Widya Mandala Surabaya Dr. V. Luluk Prijambodo, M.Pd., menilai, perubahan paradigma dalam pelaksanaan MPLS harus terus diperkuat.
Menurutnya, orientasi peserta didik tidak boleh lagi dipandang sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai fondasi pembentukan karakter dan budaya sekolah. Sehingga ke depannya, siswa bisa survive dalam menghadapi tantangan zaman.
“MPLS Ramah Anak 2026 bukan hanya sekadar menghilangkan perpeloncoan, tetapi membangun budaya sekolah yang menghormati martabat setiap anak. Praktik-praktik baik yang sudah berjalan harus diperkuat, sedangkan kekurangan yang masih muncul harus segera dievaluasi agar tidak menjadi budaya yang terus berulang. Hal ini penting, karena untuk membangun pendidikan karakter anak. Sehingga tentu setiap tahunnya selalu ada perubahan regulasi dan aturan, untuk menghadirkan MPLS yang lebih baik dan lebih berorientasi kepada pembentukan karakter siswa,” ujarnya.
Permasalahan lain yang menjadi sorotan ialah masih adanya sekolah yang belum sepenuhnya memahami esensi MPLS Ramah Anak 2026. Pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada kedisiplinan tanpa memperhatikan aspek psikologis siswa dinilai berpotensi menimbulkan rasa takut, bukan semangat belajar. Hal itulah yang harus diubah, salah satunya dengan memberikan ruang kepada guru untuk berkreatifitas menghadirkan MPLS yang baik dan berdampak kepada anak didiknya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua MPLS 2026 SMA Katolik Frateran Surabaya Christina Kustindarti, S.Pd., M.M., CFP., mengatakan bahwa kegiatan MPLS seharusnya menjadi ruang bagi siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolah secara positif. Sehingga siswa bisa memahami tujuan sekolah dan juga bisa beradaptasi dengan siapapun yang ada di sekolah. Baik jajaran guru, maupun seluruh siswa yang ada di lingkungan sekolah.
Meski persoalan bullying atau perundungan masih menjadi persoalan yang serius, Christina menilai bahwa tindakan preventif atau pencegahan, harus terus dilakukan.
“Persoalan bullying memang masih ada. Untuk itu, kami juga melakukan tindakan preventif, salah satunya dengan mengoptimalkan peran guru BK atau Bimbingan Konseling. Selain itu, kami juga berupaya memastikan setiap kegiatan memberikan pengalaman yang menyenangkan, membangun rasa percaya diri, serta memperkenalkan budaya sekolah melalui aktivitas yang edukatif. MPLS harus menjadi awal yang baik bagi perjalanan belajar siswa,” jelasnya.

Sementara itu, di tingkat sekolah menengah pertama, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan adaptasi lingkungan baru, tetapi juga kondisi emosional peserta didik yang berasal dari latar belakang berbeda. Kepala SMP Khadijah Surabaya Umi Muntafi’ah, M.Pd.I., menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua. Salah satunya dalam MPLS tahun ini adalah mengkolaborasikan kakak kelas dengan adik kelas baru, untuk menambah keakraban sekaligus untuk menghilangkan rasa senioritas antara kakak kelas dengan adik kelas.
“Anak-anak usia sekolah menengah pertama membutuhkan rasa aman terlebih dahulu sebelum mampu belajar dengan optimal. Oleh karena itu, seluruh kegiatan MPLS harus dirancang ramah anak, tanpa tekanan maupun intimidasi dalam bentuk apa pun. Ini juga merupakan program baru, kakak kelas mendampingi adik kelas untuk memperkenalkan lingkungan sekolah. Harapannya tentu ini bisa meningkatkan keakraban dan menghilangkan rasa canggung, bullying maupun senioritas,” jelasnya.
Sedangkan dari sudut pandang Sekolah Dasar melaksanakan MPLS, Kepala SDN Ploso I/172 Surabaya Ayuana Purwaningsih, M.Pd. juga mengingatkan bahwa siswa sekolah dasar membutuhkan pendekatan yang lebih humanis karena mereka masih berada pada tahap awal perkembangan sosial dan emosional.
“Keberhasilan MPLS di tingkat sekolah dasar tidak hanya ditentukan oleh sekolah. Karena orang tua juga memiliki peran penting dalam mendampingi anak agar mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Komunikasi yang baik menjadi kunci agar anak merasa aman dan nyaman.
Meski di sekolah pendidikan menjadi tanggung jawab sekolah, namun ketika kembali ke rumah, orang tua juga harus tahu bagaimana anaknya di sekolah. Mulai belajar apa saja, bagaimana pergaulan dengan teman-temannya, hingga apa saja yang menjadikan ia semangat atau malas ketika di sekolah,” ujarnya.
Dengan demikian, pelaksanaan MPLS Ramah 2026 diharapkan bisa menunjukkan perkembangan positif. Meski, evaluasi juga tetap diperlukan agar praktik-praktik yang belum sesuai dengan prinsip perlindungan anak dapat dihilangkan sepenuhnya. Sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu, tetapi juga ruang yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan pendidikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....