Pesantren Ramah Anak, Jawaban atas Tantangan Kekerasan dan Bullying di Lingkungan

  • 20 Jul 2026 17:30 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Kasus kekerasan, perundungan (bullying), hingga tekanan psikologis yang dialami anak di lingkungan pendidikan masih menjadi perhatian serius. Tak hanya terjadi di sekolah umum, berbagai kasus yang mencuat dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi pengingat bahwa lingkungan pendidikan berbasis asrama, termasuk pesantren, perlu terus memperkuat sistem perlindungan anak.

Dalam dialog Beranda Asta Cita, Senin, 20 Juli 2026, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ula II Surabaya, Ainna Amalia FN, menegaskan bahwa membangun karakter anak tidak harus dilakukan melalui kekerasan. "Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan akhlak peserta didik. Namun, masih adanya praktik pendisiplinan yang berlebihan, minimnya ruang bagi anak untuk menyampaikan keluhan, hingga lemahnya mekanisme pelaporan menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama," ujarnya.

Ainna mengatakan Konsep Pesantren Ramah Anak sangat diperlukan untuk hadir sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, serta menghormati hak-hak setiap santri. Pendekatan ini tidak menghilangkan kedisiplinan, melainkan mengedepankan pendidikan yang bebas dari kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis.

Menurutnya, pesantren yang ramah anak juga harus memiliki sistem perlindungan yang jelas apabila terjadi persoalan di lingkungan asrama. Sehingga santri perlu mengetahui kepada siapa mereka dapat menyampaikan keluhan tanpa rasa takut.

"Anak harus memiliki ruang untuk berbicara ketika menghadapi masalah. Komunikasi yang terbuka antara pengasuh, guru, santri, dan orang tua menjadi kunci agar persoalan dapat diselesaikan sejak dini. Disiplin tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan pesantren. Namun disiplin harus dibangun dengan pendekatan yang mendidik, bukan dengan kekerasan. Anak akan lebih mudah berkembang ketika merasa aman, dihargai, dan dipercaya," ujarnya.

Selain itu, tantangan di era digital juga menuntut pesantren untuk tidak hanya membangun kecerdasan spiritual, tetapi juga menjaga kesehatan mental para santri. Adaptasi terhadap lingkungan baru, kerinduan kepada keluarga, hingga tekanan dari teman sebaya menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Karena itu, Ainna mengatakan kolaborasi antara pesantren, keluarga, dan pemerintah dinilai menjadi faktor penting dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak. Dengan semakin banyaknya pesantren yang menerapkan prinsip ramah anak, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan menghargai martabat setiap anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....