Dilema Tahun Ajaran Baru: Kualitas atau Biaya, Mana yang Jadi Prioritas Orang Tua?
- 13 Apr 2026 12:59 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Memasuki periode Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), para orang tua kembali dihadapkan pada dilema klasik: memilih Sekolah Dasar (SD) Negeri atau SD Swasta. Meski pemerintah terus mengupayakan pemerataan kualitas pendidikan, tren di lapangan menunjukkan adanya pergeseran pertimbangan yang cukup signifikan bagi keluarga urban.
Bagi sebagian besar orang tua, keputusan ini bukan sekadar memilih gedung sekolah, melainkan investasi jangka panjang yang melibatkan aspek ekonomi, kurikulum, hingga pembentukan karakter anak sejak dini. Salah satu orang tua di wilayah Manukan, Surabaya, Bagus, mengungkapkan bahwa faktor lingkungan menjadi alasan utamanya melirik sekolah swasta.
"Saya lebih memilih menyekolahkan anak ke swasta selain karena kurikulumnya juga pertimbangan saya adalah lokasi sekolah negeri disini berada di lingkungan yang kurang oke. Kita tidak bisa menutup mata ya, lingkungan kan juga membentuk karakter anak," ujar Bagus.
SD Negeri tetap menjadi primadona utama, terutama bagi masyarakat yang memprioritaskan stabilitas keuangan. Beberapa alasan utamanya yaitu tentu saja biaya yang gratis, keunggulan utama sekolah negeri adalah biaya pendidikan yang disubsidi penuh oleh pemerintah melalui dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Kedua keberagaman sosial, lingkungan sekolah negeri sering kali mencerminkan realitas sosial yang lebih luas, mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan teman dari berbagai latar belakang ekonomi. Kemudian yang tidak kalah penting adalah lokasi yang strategis, melalui sistem zonasi, sekolah negeri biasanya berada tidak jauh dari tempat tinggal, yang berarti menghemat waktu dan biaya transportasi.
Di sisi lain, sekolah swasta, mulai dari sekolah berbasis agama hingga sekolah internasional menawarkan "nilai tambah" yang sulit ditemukan di sekolah negeri. Seperti fasilitas dan ekstrakulikuler, orang tua seringkali terpikat oleh fasilitas yang lebih lengkap, seperti laboratorium komputer, lapangan olahraga yang mumpuni, perpustakaan yang lengkap, hingga beragam ekstrakulikuler.
Kedua kurikulum tambahan, banyak SD swasta menawarkan kurikulum plus, seperti fokus pada bahasa asing , tahfidz Al-Qur'an, atau metode pembelajaran khusus seperti Montessori dan Cambridge. Lalu rasio guru dan siswa, jumlah siswa per kelas di sekolah swasta cenderung lebih sedikit, sehingga guru dianggap dapat memberikan perhatian lebih personal kepada setiap anak.
Terlepas dari status negeri atau swasta, faktor kenyamanan anak tetap menjadi prioritas tertinggi. Lingkungan sekolah yang positif diyakini akan meningkatkan motivasi anak untuk belajar. Ada baiknya orang tua melakukan survei langsung ke sekolah dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran riil mengenai suasana lingkungan serta proses belajar-mengajarnya.
Pada akhirnya, sekolah hanyalah sarana, peran aktif orang tua di rumah tetap menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan pendidikan anak di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....