Sekolah Harus Mampu Wujudkan Lingkungan Ramah Anak

  • 13 Jul 2026 17:48 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Hari pertama masuk sekolah menjadi momen penting bagi peserta didik untuk memulai tahun ajaran baru dengan semangat dan rasa aman. Tidak hanya menjadi ajang perkenalan dengan lingkungan belajar, sekolah juga dituntut mampu menghadirkan suasana yang ramah anak, inklusif, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.

Komitmen menciptakan sekolah ramah anak dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun budaya belajar yang sehat. Lingkungan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang memberikan rasa nyaman, menghargai keberagaman, serta bebas dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan.

Dalam program dialog Aspirasi Pagi, Senin, 13 Juli 2026, Kepala Sekolah SMP Kristen YBPK I Surabaya sekaligus Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kota Surabaya, Erwin Darmogo mengatakan hari pertama sekolah harus menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi setiap anak. Menurutnya, seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan iklim belajar yang positif sejak langkah pertama peserta didik memasuki lingkungan sekolah.

“Hari pertama sekolah adalah awal pembentukan karakter dan kesan bagi peserta didik. Karena itu, sekolah harus mampu menghadirkan suasana yang hangat, aman, dan menyenangkan agar anak merasa diterima serta memiliki semangat untuk belajar,” ujarnya.

Ia menegaskan, konsep sekolah ramah anak bukan sekadar memenuhi aspek sarana dan prasarana, tetapi juga diwujudkan melalui budaya sekolah yang menghormati hak-hak anak, membangun komunikasi yang baik antara guru dan siswa, serta melibatkan orang tua dalam proses pendidikan.

“Sekolah ramah anak berarti setiap peserta didik diperlakukan dengan penuh penghargaan. Guru menjadi pendamping yang membimbing, bukan menakutkan. Tidak boleh ada praktik perundungan, kekerasan fisik maupun verbal, karena sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak bertumbuh dengan rasa percaya diri,” tegasnya.

Menurut Erwin, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) juga perlu diarahkan sebagai kegiatan edukatif yang memperkenalkan budaya positif, tata tertib, serta nilai-nilai karakter tanpa adanya aktivitas yang merendahkan atau membebani peserta didik baru. Sehingga harapannya, peserta didik bisa merasa nyaman untuk belajar dan menjadikan sekolah menjadi tempat yang dirindukan.

Untuk itu, ia berharap seluruh satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta, terus memperkuat kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berpihak kepada anak.

“Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari bagaimana sekolah mampu melindungi, menghargai, dan membentuk karakter peserta didik. Ketika anak merasa aman dan bahagia di sekolah, proses belajar akan berlangsung lebih optimal,” ujarnya.

Momentum hari pertama masuk sekolah diharapkan menjadi awal terbentuknya budaya belajar yang positif sekaligus memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan sekolah yang benar-benar ramah anak, sehingga setiap peserta didik dapat berkembang secara akademik, sosial, maupun emosional dalam lingkungan yang aman dan penuh penghargaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....