Rasa Aman di Sekolah Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak

  • 13 Jul 2026 17:46 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Memasuki tahun ajaran baru dan hari pertama masuk sekolah, keberadaan sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang harus mampu memberikan rasa aman bagi setiap peserta didik. Ketika anak merasa tidak aman di lingkungan sekolah, dampaknya tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental, perkembangan sosial, hingga pembentukan karakter mereka.

Berbagai kondisi seperti perundungan (bullying), diskriminasi, kekerasan verbal maupun fisik, serta lingkungan belajar yang kurang mendukung dapat memunculkan rasa takut, cemas, dan enggan datang ke sekolah. Akibatnya, konsentrasi belajar menurun, prestasi akademik merosot, bahkan tidak sedikit anak yang kehilangan kepercayaan diri dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Dalam dialog Aspirasi Pagi, Senin, 13 Juli 2026, Anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya sekaligus Guru Besar Pendidikan Ilmu Kesejahteraan Keluarga Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd, menegaskan bahwa rasa aman merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan.

“Anak yang merasa aman akan lebih mudah berkonsentrasi, berani mengemukakan pendapat, mampu berinteraksi secara positif, dan mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Sebaliknya, ketika rasa aman itu hilang, anak akan belajar dalam kondisi tertekan sehingga perkembangan akademik, emosional, maupun sosialnya ikut terganggu,” ujarnya.

Menurut Prof. Luthfiyah, dampak jangka panjang dari lingkungan sekolah yang tidak aman dapat memengaruhi kesehatan psikologis anak hingga masa dewasa. Anak berisiko mengalami kecemasan berkepanjangan, kehilangan motivasi belajar, rendah diri, bahkan kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Ia menilai, menciptakan sekolah yang ramah anak bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh warga sekolah, orang tua, dan masyarakat. Budaya saling menghormati, toleransi, empati, komunikasi yang terbuka, serta sistem pelaporan yang berpihak kepada korban perlu dibangun agar setiap anak merasa terlindungi.

“Sekolah harus menjadi rumah kedua yang menyenangkan bagi anak. Mereka harus merasa dihargai, didengar, dan dilindungi. Ketika lingkungan sekolah mampu menghadirkan rasa aman, maka proses pendidikan akan berjalan lebih efektif dan karakter positif peserta didik akan tumbuh secara alami,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran guru sebagai pendamping yang peka terhadap perubahan perilaku peserta didik. Menurutnya, tanda-tanda seperti anak menjadi pendiam, sering tidak masuk sekolah, atau prestasinya menurun perlu segera direspons agar permasalahan yang dihadapi tidak berkembang menjadi lebih serius.

“Rasa nyaman di sekolah tidak hanya diciptakan oleh lingkungan sekolah saja, tetapi peran orang tua dan lingkungan sekitar juga memiliki andil dalam perkembangan anak, baik itu akademik maupun non akademiknya. Orang tua juga harus ‘aware’ jika ada perubahan perilaku anak yang dirasa tidak seperti biasanya, harus mencari tahu apa sebabnya, dengan komunikasi yang baik, tanpa menyudutkan anak, sehingga anak bisa nyaman bercerita kepada orang tua,” katanya.

Melalui upaya bersama tersebut, sekolah diharapkan benar-benar menjadi lingkungan yang aman, inklusif, dan nyaman sehingga setiap anak dapat belajar, bertumbuh, serta mengembangkan potensi terbaiknya tanpa rasa takut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....