Pasar Murah Digelar Serentak, Pemkot Surabaya Jaga Harga Pangan

  • 12 Agt 2026 14:32 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Pasar Murah dan GPM digelar serentak di 31 kecamatan Surabaya, menyediakan beras SPHP, Minyakita, gula, serta komoditas pangan dengan harga terjangkau.
  • Pemkot Surabaya menggandeng Bulog, distributor, kelompok tani, dan UMKM untuk menjaga keterjangkauan harga sekaligus membantu menekan inflasi daerah.
  • Program akan digelar rutin setiap bulan hingga Desember 2026, dengan harga beras SPHP dan Minyakita maksimal sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), atau lebih rendah jika memungkinkan

RRI.CO.ID, Surabaya - Pemerintah Kota Surabaya menggelar Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di 31 kecamatan, Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan ini menyediakan beragam kebutuhan pangan dengan harga terjangkau, sekaligus melibatkan UMKM dan kelompok tani setempat.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan antusiasme warga cukup tinggi. Menurutnya, komoditas yang dijual lebih rendah dibandingkan harga pasar dan mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Antusiasme masyarakat dalam kegiatan ini cukup tinggi karena komoditas yang dijual memang harganya di bawah harga pasar,” kata Vykka. Selain bahan pokok, tersedia pula hasil produksi kelompok tani dan pelaku UMKM, termasuk ikan lele.

Ikan lele dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasar Rp26 ribu hingga Rp27 ribu. Vykka menyebut kegiatan tersebut juga dimanfaatkan pelaku usaha kuliner untuk mendapatkan bahan baku.

“Bukan hanya warga yang membeli. Ada juga penjual penyetan yang ikut membeli, sehingga kegiatan seperti ini cukup membantu,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Nanik Sukristina mengatakan GPM berkolaborasi dengan pasar murah. Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) serta berlangsung serentak.

Komoditas yang disediakan meliputi beras SPHP 17.000 kilogram, Minyakita 8.160 liter, dan gula 2.400 kilogram. Di titik GPM Kecamatan Rungkut, tersedia bawang merah 18 kilogram, bawang putih 14 kilogram, dan cabai rawit 7,5 kilogram.

Selain itu, tersedia cabai merah besar 9,75 kilogram serta telur ayam ras sebanyak 70 kilogram. Nanik menjelaskan bahan pangan tersebut disediakan melalui kolaborasi dengan Bulog dan sejumlah distributor.

Minyakita dijual sekitar Rp15.500 per liter, sedangkan beras SPHP sekitar Rp58 ribu. “Minyak menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dicari karena selisih harganya dengan harga di pasaran cukup jauh,” ujarnya.

Untuk telur, harga yang ditawarkan sekitar Rp22 ribu per kilogram, sementara harga pasar mencapai Rp26 ribu. Kepala Dinkopumdag Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan pasar murah menjadi upaya mendekatkan pangan sekaligus menekan inflasi. Kegiatan tersebut akan digelar rutin setiap bulan hingga Desember 2026. Satu kecamatan menjadi titik GPM, sedangkan 30 kecamatan lainnya menggelar pasar murah secara serentak.

Pemkot juga membuka ruang bagi UKM, kegiatan padat karya, hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih untuk berpartisipasi. Sementara itu, Kepala BPS Surabaya Arrief Chandra Setiawan menilai pasar murah membantu menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan pangan.

Pada Juli 2026, Surabaya mencatat deflasi 0,22 persen, lebih dalam dibandingkan nasional sebesar 0,14 persen. Secara year to date hingga Juli 2026, inflasi Surabaya mencapai 1,95 persen dan masih terkendali. “Masih aman. Artinya, aman sampai beberapa bulan ke depan untuk stok pangan kita,” ujar Arrief.

Bagi warga Penjaringan Sari, kegiatan tersebut memberikan manfaat langsung dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Retno mengaku membeli ayam, telur, beras, sosis, dan minyak karena harganya dinilai lebih terjangkau.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠“Terima kasih Bapak Wali Eri Cahyadi karena telah memberikan peluang bagi kami mendapatkan kebutuhan dengan harga lebih murah,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....