Apakasindo Minta Harga TBS Sawit di Babel Kembali Normal
- 02 Jun 2026 16:37 WIB
- Sungailiat
Poin Utama
- Harga TBS sawit di Babel diminta kembali normal
RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) meminta harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di pabrik kelapa sawit (PKS) maupun di tingkat petani kembali normal.
Hal itu disampaikan oleh Plt Ketua Apkasindo Babel Jamaluddin pada rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Babel, Selasa 2 Juni 2026.
Ia mengatakan, per 29 Mei 2026, harga Crude Palm Oil (CPO) di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) sudah menunjukkan penawaran yang positif mendekati angka Rp15.000.
"Penawaran di KPBN sudah mendekati Rp15.000, jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi pihak PKS untuk membeli TBS dengan harga yang tidak normal atau di bawah standar kelayakan. Saat ini di Pulau Bangka harga memang mulai merangkak naik, seperti di PT Thep yang menyentuh Rp2.650 dan PT Bumi Liwung Cahaya Mentari di angka Rp2.520," kata Jamaluddin.
Selain masalah harga, dalam RDP tersebut para petani juga menyampaikan aspirasi terkait adanya dugaan permainan timbangan di tingkat pabrik. Menanggapi hal itu, Apkasindo meminta Dinas Pertanian proaktif turun ke lapangan melakukan pengawasan ketat mengacu pada Permentan Nomor 13 Tahun 2024 dan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang penetapan harga.
"Kami meminta Satgas Pangan Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung untuk menindak tegas PKS-PKS yang belum membeli sawit sesuai standar ininya, termasuk mengawasi praktik kecurangan timbangan," katanya.
Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya menyatakan bahwa pihak legislatif mengacu pada hasil kesimpulan rapat di Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh Wakil Menteri Pertanian pada Jumat, 29 Mei 2026. Berdasarkan regulasi tersebut, kepala daerah diminta untuk mengawal implementasi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 13 Tahun 2024.
"DPRD meminta dengan tegas agar pabrik-pabrik PKS mengembalikan harga beli sawit sesuai hasil kesepakatan rapat bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan pada 7 Mei 2026 lalu di kantor gubernur," ujar Didit.
Menurut Didit, pola fluktuasi harga yang dinilai sangat merugikan para petani lokal di Bangka Belitung. Menurutnya, skema penurunan harga terjadi sangat drastis, sedangkan tren kenaikannya berjalan sangat lambat.
"Harga sawit ini turunnya seperti air hujan, langsung drastis merosot Rp1.000 hingga Rp1.200. Tapi giliran naik, seperti siput berjalan, hanya Rp150 sampai Rp200. Saat ini rata-rata dibeli Rp2.100 per kilogram, padahal dengan kondisi harga pupuk yang tinggi sekarang, harga ideal agar petani bisa bernapas adalah Rp2.700 per kilogram," katanya.
Ia mengingatkan bahwa anjloknya komoditas kelapa sawit akan membawa efek domino yang luas bagi perekonomian daerah. "Jika harga sawit anjlok, dampaknya kompleks. Daya beli masyarakat menurun, UMKM melemah, pasar menjadi sepi, bahkan potensi angka kriminalitas bisa meningkat," ucapnya.
Sebagai langkah konkret, DPRD Babel dijadwalkan bertolak ke Jakarta pada Kamis mendatang untuk menemui Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian guna memastikan langkah strategis pusat dalam mengawal stabilitas harga ini. Didit juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) dan Satgas Pangan untuk langsung memantau pergerakan harga di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....