Apksindo Babel: Harga TBS Kelapa Sawit Masih Rendah

  • 29 Mei 2026 22:49 WIB
  •  Sungailiat
Poin Utama
  • Apkasindo Babel meminta harga TBS kelapa sawit kembali stabil

RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyebutkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit masih rendah baik di tingkat petani dan pabrik.

Harga di pabrik saat ini berkisar Rp 2.070-2.250 per kg dan di tingkat petani Rp 1.700-1.750 per kg.

Plt Ketua Apkasindo Babel, Jamaluddin mengatakan, dalam waktu dekat, Apkasindo Babel bakal melakukan rapat dengar pendapat (RDP) digelar pada 2 Juni pukul 10.00 WIB di Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Provinsi Bangka Belitung.

"Kita ingin bicarakan penurunan harga TBS ini, karena ini kebijakan pemerintah pusat. DPRD Babel menanyakan perkembangan di tingkat petani, di enam kabupaten, kita sampaikan ke provinsi," kata Jamaludin, Jumat 29 Mei 2026.

Ia berharap harga TBS sawit kembali stabil. Apkasindo juga meminta DPRD dan Pemprov Babel menyampaikan kondisi anjloknya harga sawit, kepada pemerintah pusat karena saat ini harga dinilai terus terjun bebas.

"Kita ingin pemerintah dapat menstabilkan kembali harganya, kami ingin menyampaikan aspirasi kami. Karena harga terjun bebas, dan Pemprov Babel dapat menyampaikan ke pemerintah pusat," ucapnya.

Apkasindo menilai kebijakan ekspor, bakal dilakukan melalui satu pintu di bawah Danantara, berdampak pada turunnya harga TBS kelapa sawit.

"Kami minta normal lagi, karena para petani mengeluh semua, bagaimana caranya, harga dapat seperti semula, yang dilakukan ekportir sebelumnya, kembali semula jangan dengan ini tambah turun," katanya.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berupaya berkoordinasi dengan berbagai pihak guna meredam keresahan masyarakat sekaligus melaporkan kondisi riil lapangan ke pemerintah pusat menyikapi penurunan tajam pada harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani sejak pertengahan Mei.

Kepala DPKP Babel, Kurniawan, mengatakan, berdasarkan pantauan lapangan per 23 Mei, penurunan harga ini terjadi secara spesifik pasca-tanggal 20 Mei. Kendati demikian anjloknya harga sejauh ini lebih berdampak pada petani swadaya (mandiri), sementara petani mitra (plasma) relatif masih aman.

"Kalau berdasarkan hasil rapat zoom kami, harga yang ditetapkan per 18 Mei kemarin untuk petani mitra sebenarnya masih diikuti oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Namun, untuk harga pasca-tanggal 20 Mei, terutama bagi petani swadaya, memang faktanya langsung turun, termasuk harga di tingkat pabrik," kata Kurniawan.

Menurut Kurniawan, ada dua faktor utama yang memengaruhi kondisi pasar saat ini. Pertama, pada penetapan berkala sebelumnya, tren harga Crude Palm Oil (CPO) global memang tercatat sedang rendah. Faktor kedua berkaitan dengan dinamika regulasi atau kebijakan nasional per tanggal 20 Mei, yang membuat para pembeli besar memilih untuk menahan diri.

"Hasil koordinasi kami dengan beberapa PKS menunjukkan bahwa pihak buyer (pembeli) saat ini mengambil sikap Wait and See. Mereka masih menunggu arahan dan perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan pasca-tanggal 20 Mei tersebut," ujarnya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....