DPRD Babel Soroti Anjloknya Harga TBS Kelapa Sawit

  • 29 Mei 2026 22:53 WIB
  •  Sungailiat
Poin Utama
  • Harga TBS kelapa sawit di Bangka Belitung anjlok

RRI.CO.ID, Pangkalpinang- DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyoroti anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Bangka Belitung.

Wakil Ketua DPRD Babel, Eddy Iskandar, mengatakan, penurunan harga TBS sawit terjadi secara tiba-tiba dan diduga dimanfaatkan sejumlah pihak untuk mengambil keuntungan setelah muncul wacana kebijakan ekspor melalui satu pintu BUMN.

"Terjadi seketika, kami melihat, persoalanya apa yang menjadi aturan baru. Karena aturan ekspor satu pintu itu kan baru dilaksanakan per 1 Januari 2027," kata Eddy, Jumat 29 Mei 2026.

Ia mengatakan, saat ini proses masih berjalan seperti biasa. Dari kementerian, meminta dinas terkait untuk berkoordinasi ke pabrik-pabrik kelapa sawit. Melakukan mitigasi, serta pengecekan ke sejumlah pabrik, terkait penyebab turunya harga.

"Karena mengatakan tangki penuh atau tidak, harus dilihat. Sehingga tidak menerima buah dari masyarakat. Jangan sampai pabrik mengambil keuntungan di dalam kondisi saat terjadinya perubahan ini," ujarnya

Menurut dia, pemerintah tidak boleh kalah oleh segelintir pihak yang ingin mengambil keuntungan sesaat dari situasi tersebut.

"Pemerintah tentu tidak boleh kalah, dari segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan sesaat seperti itu. Harus diutamakan kepentingan lebih besar ekonomi masyarakat dan daerah. Pemerintah daerah segera bentuk tim gabungan melibatkan APH, melihat kondisi ini, harga yang telah disepakati harus dijalankan," ucapnya.

Kepala DPKP Babel, Kurniawan, mengatakan, berdasarkan pantauan lapangan per 23 Mei, penurunan harga ini terjadi secara spesifik pasca-tanggal 20 Mei. Kendati demikian anjloknya harga sejauh ini lebih berdampak pada petani swadaya (mandiri), sementara petani mitra (plasma) relatif masih aman.

"Kalau berdasarkan hasil rapat zoom kami, harga yang ditetapkan per 18 Mei kemarin untuk petani mitra sebenarnya masih diikuti oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Namun, untuk harga pasca-tanggal 20 Mei, terutama bagi petani swadaya, memang faktanya langsung turun, termasuk harga di tingkat pabrik," kata Kurniawan.

Menurut Kurniawan, ada dua faktor utama yang memengaruhi kondisi pasar saat ini. Pertama, pada penetapan berkala sebelumnya, tren harga Crude Palm Oil (CPO) global memang tercatat sedang rendah.

Faktor kedua berkaitan dengan dinamika regulasi atau kebijakan nasional per tanggal 20 Mei, yang membuat para pembeli besar memilih untuk menahan diri.

"Hasil koordinasi kami dengan beberapa PKS menunjukkan bahwa pihak buyer (pembeli) saat ini mengambil sikap Wait and See. Mereka masih menunggu arahan dan perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan pasca-tanggal 20 Mei tersebut," ujarnya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....