Petani Air Duren Kecewa, Tak Bisa Pasarkan Panen
- 05 Feb 2026 15:13 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Mendo Barat - Petani sayur di Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat, mengaku kecewa akibat anjloknya harga sayur di tingkat petani. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya tengkulak yang datang langsung ke kebun untuk mengambil hasil panen, sehingga petani kesulitan memasarkan sayuran mereka.
Salah seorang petani sayur di Desa Air Duren Armada mengatakan, harga jual sayur saat ini tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan. Mulai dari harga pupuk yang terus meningkat, biaya perawatan tanaman, hingga upah tenaga kerja, semuanya tidak tertutupi oleh hasil penjualan.
“Kita pening, harga pupuk mahal, racun mahal, kalau lagi mahal banyak yang datang tengkulak, lagi murah seperti ini gak ada yang mau beli. Modal banyak, ini aja masih nunggak untuk membayar upah pekerja,” ujar Armada kepada RRI, Kamis 5 Februari 2026.
Diakui Armada, harga sayur sawi hasil panennya, hanya dihargai Rp2 ribu per kilogram, jauh untuk menutupi biaya modal yang dikeluarkan minimal Rp20 juta dalam satu kali produksi.
Itupun belakangan ini, hampir tidak ada tengkulak yang mengambil sayur dari petani. Akibatnya, banyak hasil panen yang terbuang tidak terserap pasar.
“Kalau tidak ada yang ambil, sayur busuk di kebun. Daripada rugi lebih besar, terpaksa kita tebas habis, rugi banyak kita,” katanya.
Kondisi tersebut membuat para petani berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk membantu mencarikan solusi, baik melalui stabilisasi harga, pembukaan akses pasar, maupun bantuan distribusi hasil pertanian.
Para petani menilai, tanpa adanya kepastian harga dan jaminan pemasaran, usaha pertanian sayur semakin sulit untuk dipertahankan, terutama bagi petani kecil yang mengandalkan hasil kebun sebagai sumber utama penghidupan keluarga.
Pihaknya juga belum merasakan dampak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah yang dimaksudkan bisa berdampak terhadap pemberdayaan petani lokal.
“Kami akan melakukan pengecekan langsung ke petani apakah memang pasokannya banyak, apakah mungkin permintaan banyak, inilah maksud presiden, ketika SPPG dibutuhkan lokal, apakah sawi termasuk sayur yang tahan lama atau tidak,” kata Bupati Bangka Fery Insani menanggapi viralnya video petani yang menebas sayur sebagai bentuk kekecewaan karena tidak dapat menjual sayur.
Fery mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas keluhan petani yang merugi karena harga sawi dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....