Asta Tinggi, Sejarah Persemayaman Raja - raja Sumenep

  • 25 Agt 2024 19:21 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Jika Anda ke Sumenep, jangan lupa kunjungi 3 ikon utama yang menjadi fondasi jejak sejarahnya, yakni Keraton, Masjid Jamik, dan Asta Tinggi. Ketiganya masih lestari hingga kini, bukan hanya puing, tapi masih utuh dan berfungsi. Asta Tinggi, setiap hari selalu ramai dengan wisatawan atau lebih tepatnya para peziarah, karena masuk sebagai destinasi wisata religi. Asta Tinggi merupakan tempat bersemayam raja – raja Sumenep.

Asta Tinggi terbagi menjadi 2 bangunan, yakni sisi barat dan sisi timur. Pembangunannya secara bertahap, mulai dari masa pemerintahan Pangeran Rama (Pangeran Cokronegoro II), raja ke-25 sekitar tahun 1695. Kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan Penembahan Sumolo (Pangeran Notokusumo I Asiruddin). Panembahan Sumolo membuat bangunan Asta Tinggi Sumenep bernuansa China, Eropa, Arab, dan Jawa. Pembangunan Asta Tinggi disempurnakan pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman dan berlanjut saat putranya memimpin Sumenep, yaitu Penembahan Moh Saleh.

Penamaan Asta Tinggi memiliki alasan yang menarik. Bangunan ini terletak di dataran tinggi di sisi Barat pusat kota Sumenep. Penamaannya menyesuaikan dengan lokasinya, ‘asta’ berarti ‘makam’, dan ‘tenggi’ dalam ejaan Bahasa Madura berarti ‘tinggi’. Sehingga nama Asta Tinggi bermakna pemakaman yang berada di ketinggian.

Salah satu sejarawan Sumenep yang juga merupakan guru sejarah di SMA 2 Sumenep, Nurul Hidayati Agustin menyampaikan alasan pemilihan lokasi Asta Tinggi. Menurutnya, pada zaman dahulu orang – orang percaya bahwa sosok penting, apalagi raja, tempat persemayaman terakhirnya harus berbeda dan harus lebih tinggi dari orang - orang biasa.

“Hal tersebut dilakukan untuk menghormati beliau sebagai orang yang dihormati dan statusnya lebih tinggi dari kita,” ungkap Titin, sapaan akrabnya, kepada RRI, Minggu (25/8/2024).

Ia menambahkan, sisi menarik lainnya adalah arsitektur China yang bisa dilihat di Asta Tinggi dan Masjid Jamik Sumenep. Hal ini menunjukkan Sumenep merupakan daerah yang sangat terbuka dan menerima.

“Sumenep sangat welcome terhadap siapa pun yang ingin ke Sumenep dan berbuat baik di Sumenep. Ini bisa kita lihat saat Sultan Abdurrahman mempercayakan arsitektur Masjid Jamik dan Asta Tinggi pada arsitek dari luar, dari China,” ungkapnya.

Kemegahan dan keunikan arsitektur China masih terlihat jelas di dua destinasi wisata tersebut. Bahkan, sering diabadikan oleh lensa wisatawan yang berkunjung.

Jika ke Asta Tinggi, maka Anda akan melihat peristirahatan terakhir raja - raja Sumenep, di antaranya Bindara Saod atau Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (masuk melalui pintu gerbang Barat) dan Sultan Abdurrahman (masuk melalui gerbang Timur). Selain itu juga ada R. Ayu Mas Ireng, Pangeran Anggadipa, Pangeran Rama, Pangeran Seppo, R. Ayu Artak, Pangeran Panji Polang, Ratu Ari, Pangeran Jimat, dan R. Aria Wiranegara, R. Bindara Saod, R. Ayu Dewi Rasmana, dan lainnya yang ada di kompleks Asta Tinggi, namun dalam kubah yang berbeda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....