Wisata Petik Melon Kalianget Timur Jadi Daya Tarik Edukasi dan Ekonomi Warga

  • 01 Jun 2026 11:38 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Wisata Petik Melon di Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, mulai menarik perhatian masyarakat sejak resmi dibuka pada 31 Mei 2026. Destinasi berbasis pertanian ini menawarkan pengalaman rekreasi sekaligus edukasi bagi pengunjung.

Pengunjung dapat memetik melon langsung dari kebun yang dikelola petani setempat, sehingga memberikan pengalaman berbeda dibandingkan wisata pada umumnya.

Wakil Ketahanan Pangan Kalianget Timur, Bela Pamungkas, mengatakan antusiasme masyarakat cukup tinggi sejak hari pertama pembukaan.

“Alhamdulillah masyarakat banyak yang senang karena bisa memetik melon sendiri di kebun ini. Selain itu, mereka juga bisa berfoto dan menikmati suasana kebun secara langsung,” kata Bela, Senin, 1 Juni 2026.

Ia menjelaskan, konsep wisata ini juga memberikan nilai edukasi bagi pengunjung.

“Pengunjung dapat langsung memetik dan bahkan mencicipi melon yang sudah dipilih. Ini pengalaman yang berbeda dibandingkan wisata pada umumnya,” ujarnya.

Menurut Bela, sebagian masyarakat sempat mempertanyakan harga melon yang dipatok Rp25 ribu per kilogram. Namun, ia menilai harga tersebut masih sesuai dengan kondisi pasar di wilayah Sumenep.

“Harga Rp25 ribu itu masih wajar. Komunitas petani melon di Sumenep juga sudah menetapkan harga yang sama, bahkan jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Pamekasan, harganya masih kompetitif,” katanya.

Dari sisi kualitas, Bela menyebut respons pengunjung cukup positif karena rasa melon dinilai manis dan memuaskan.

“Alhamdulillah banyak yang bilang melonnya manis. Ada juga pengunjung yang sudah kembali sampai empat kali ke sini,” ujarnya.

Wisata yang berlokasi di Dusun Lisun, RT 06 RW 01, Desa Kalianget Timur tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kehadirannya turut melibatkan warga dalam pengelolaan serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Saat ini, lebih dari 120 buah melon telah terjual dari total 876 tanaman yang dibudidayakan. Ke depan, pengelola berencana melanjutkan penanaman dengan sistem rumah kaca untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Destinasi ini diharapkan dapat terus berkembang sebagai wisata edukasi berbasis pertanian yang memperkuat ekonomi desa sekaligus memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat luas.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....