Menelusuri Jejak Dakwah Sunan Ampel di Sumenep

  • 14 Apr 2026 14:23 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Jejak spiritual Sunan Ampel seolah tak pernah benar-benar hilang dari ingatan masyarakat Madura. Di ujung barat Kabupaten Sumenep, tepatnya di Kampung Batang, Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten, kisah dakwah itu berdenyut pelan—hidup dalam sunyi, namun tetap terasa.

Di tengah perkampungan yang sederhana, berdiri sebuah maqbarah yang oleh warga setempat disebut sebagai bhuju’. Di sanalah Sayyid Muban dimakamkan, berdampingan dengan beberapa tokoh lain. Tak banyak yang tahu, di balik kesederhanaan tempat itu, tersimpan jejak panjang nasab yang terhubung dengan para wali.

Berdasarkan manuskrip tulisan tangan R.B. Abdul Fatta (1989), Sayyid Muban disebut sebagai putra dari Sayyid Syits Bhalang bin Sayyid Zainal Abidin, yang dikenal sebagai Sunan Cendana. Garis itu terus bersambung hingga kepada Sunan Drajat, putra dari Sunan Ampel. Salah satu tokoh sentral penyebaran Islam di tanah Jawa.

Bagi para peziarah, tempat ini bukan sekadar makam. Namun tempat untuk menambatkan batin saat lelah. Abdul Hadi, peziarah asal Kecamatan Bluto mengaku merasakan kesan mendalam saat pertama kali datang.

“Kemarin baru datang, dan ornamen maqbarahnya memang sangat unik,” tutur Abdul Hadi pelan, seolah menjaga suasana sakral yang menyelimuti area tersebut.

Perjalanan menuju lokasi pun menjadi bagian dari pengalaman spiritual itu sendiri. Sekitar 40 menit dari pusat kota Sumenep, jalanan menuju Ambunten membawa pengunjung melewati hamparan desa dan kehidupan warga yang bersahaja. Setibanya di sana, hampir setiap orang tahu arah menuju Kampung Batang. Seakan tempat itu telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Bagi warga setempat, maqbarah ini sejak lama diyakini sebagai tempat yang keramat. Ahmad, salah satu warga Ambunten, mengaku selama ini hanya mengenalnya sebagai makam “orang dari barat”.

Kini, setelah jejak nasab itu mulai terkuak, pemaknaan pun menjadi lebih dalam. “Sekarang semakin jelas, mungkin yang dimaksud dari barat itu berasal dari garis keturunan Sunan Cendana di Bangkalan,” ujar Ahmad dengan nada syukur.

Di Ambunten, sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk prasasti megah atau catatan resmi. Ia hidup dalam tutur warga, dalam langkah para peziarah, dan dalam diamnya makam yang menyimpan kisah panjang dakwah para wali. Sebuah pengingat, bahwa jejak kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....