Halal Bihalal: Merawat Silaturrahim dan Menguatan Solidaritas

  • 26 Mar 2026 10:32 WIB
  •  Sumenep

Tradisi halal bihalal telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia tidak terkecuali di Madura, terutama setiap momentum Idul Fitri tiba. Secara historis, Halal sudah ada sejak sebelum kemerdekaan dan dipopulerkan KH Wahab Hasbullah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama pada tahun 1948, yang kemudian ia menyarankan Presiden Soekarno waktu itu untuk menyatukan para tokoh bangsa yang berseteru melalui kegiatan silaturrahim yang dikemas dengan Halal Bihalal.

Melalui Halal Bihalal waktu itu, Bung Karno mempertemukan kembali para tokoh dan masyarakat yang sebelumnya terpecah karena perbedaan. Dari situlah ia berkembang menjadi sebuah forum pemersatu—sebuah ruang untuk saling memaafkan, mempererat hubungan, dan menghapus jarak sosial.

Kini, halal bihalal bukan sekadar kebiasaan yang diwarisi, tetapi telah menjelma menjadi kebutuhan sosial. Setiap Idul Fitri, masyarakat dari berbagai latar belakang berbondong-bondong menyelenggarakan pertemuan keluarga besar, reuni kerabat, hingga forum lintas generasi. Intinya satu: merawat silaturahmi. Dalam pertemuan itu, kehangatan keluarga dan keakraban tetangga kembali dipertautkan setelah setahun penuh terpisah oleh kesibukan.

Namun demikian, di beberapa tempat, tradisi ini mulai mengalami pergeseran makna. Ada kecenderungan sebagian kalangan menjadikan halal bihalal sebagai panggung pamer—pamer capaian hidup, jabatan baru, keberhasilan materi, atau kemapanan ekonomi. Padahal inti dari tradisi ini bukanlah mempertontonkan apa yang dicapai, tetapi menanggalkan ego, saling memaafkan, serta memulihkan hubungan yang mungkin rapuh atau berjarak.

Karena itu, halal bihalal seharusnya kembali pada ruh aslinya: memperkuat solidaritas dan empati sosial. Di antara keluarga besar atau kerabat dekat, tentu ada yang kehidupannya belum seberuntung yang lain, ada yang tengah diuji musibah, kehilangan orang-orang tercinta, putus hubungan kerja atau bergulat dengan kesulitan ekonomi. Momentum berkumpul pasca-Lebaran ini mestinya menjadi sarana untuk menengok mereka—lebih jauh, untuk membuka pintu bantuan, kepedulian, dan perhatian nyata.

Tradisi halal bihalal memberi pelajaran penting bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan kegembiraan setelah berpuasa, melainkan juga pengingat untuk menjaga hubungan antar-manusia. Ia menegaskan bahwa keberagamaan bukan hanya terletak pada ibadah ritual, tetapi juga pada kemampuan kita untuk merangkul, mendengar, dan membantu sesama.

Ketika halal bihalal dipahami sebagai wadah memupuk persaudaraan tulus, maka ia tidak lagi sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan jembatan sosial yang memperkuat bangunan kebersamaan. Di tengah tantangan zaman yang sering memicu individualisme, tradisi ini justru mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendiri.

Sudah saatnya kembali menata makna halal bihalal. Jadikan ia bukan sekadar seremoni, bukan ajang pamer, tetapi ruang bagi nilai-nilai luhur: silaturahmi, empati, dan solidaritas. Sebab dari situlah sejatinya Idul Fitri menemukan kemurniannya—ketika kita kembali suci, bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....