Garam Madura Butuh Inovasi

  • 11 Jun 2024 13:54 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep: Pulau penghasil garam terbesar di Indonesia adalah Madura. Sangat pantas rasanya jika pulai ini dijuluki pulau garam. Karena memang pulau yang menghasilkan garam. Di setiap kabupaten, memiliki lahan garam yang berhektar hektar luasnya. Musim menjadi pendukung pulau ini menghasilkan dengan jumlah yang besar setiap tahunna. Karena pulau madura memiliki musim kemarau hang lebih panjang dari daerah - daerah yg lainnya.

Pemanfaatan garam masih sebatas sebagai penambah rasa pada makanan atau disebut juga garam konsumsi bagi orang awam. Kita belum tahu dan belum paham, bahwa garam tak hanya sebatas rasa asin kemudian selesai. Lebih dari itu. Pemanfaatannya bisa berbagai macam di berbagai industri. Hanya saja, pemanfaatan garam kita di Indonesia belum maksimal. "Garam kita tidak stabil secara harga. Masih sangat murah. Alasan yang paling sering di dengar adalah, garam kita tidak sesuai dengan permintaan industri". Ungkap Achtiar Redy Setiawan, budayawan Madura. Memanglah demikian adanya, garam dari petani hanya dihargai kurang dari 1000 rupiah per kilonya.

Garam bisa dimanfaatkan di berbagai industri. Sebut saja di industri farmasi, kosmetik, tekstil dan lainnya. Tentu jika sudah cocok kriteria untuk dijadikan garam industri, harganya akan semakin mahal. Maka pengolahan garam untuk industri ini yang perlu dipelajari oleh masyarakat madura, Supaya harga tidak terus menerus rendah dan tidak menguntungkan bagi petani garam. “Pun jika tetap akan dijadikan garam konsumsi, maka pengolahan dan pengemasannya perlu diperhatikan. Karena nilai jual juga akan semakin tinggi dengan seperti itu”. kata pak Redy.

Minimnya penerus petani garam juga menjadi tantangan tersendiri. Jika tak ada penerus, maka bisa saja pulau garam hanya tinggal sebutan saja bagi madura. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, menjadikan garam bisa bernilai tinggi dan dimanfaatkan untuk berbagai industri bisa menarik minat para pemuda untuk ikut terjun dalam pertanian garam tersebut. Tak harus menjadi petaninya, tetapi menjadi orang yang mengubah harga demi kesejahteraan petaninya. Bagaimana caranya? “kita harus berinovasi, memanfaatkan tekhnologi. Mencari tahu, garam seperti apa yang cocok untuk garam industri, lalu kita edukasi masyarakat agar garam yang mereka hasilkan sesuai dengan kebutuhan itu”. Pak Redy mejelaskan.

Kemauan untuk menghadapi tantangan itu akan mengabadikan madura sebagai pulau garam. Semakin kedepan, tantangan akan bertambah. Inovasi dari si pemilik pulau harus diupayakan. Agar garam tak hanya bersinar ketika terik, tapi juga menguntugkan bagi yang sudah berpanas - panasan untuk memanennya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....