Malam di Giligenting, saat Kayu Bakar Kembali Menyala
- 13 Agt 2026 10:17 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Malam mulai turun di Desa Gedugan, Kecamatan Pulau Giligenting, Kabupaten Sumenep. Di tengah suasana yang tenang, kepulan asap perlahan terlihat dari tungku sederhana milik warga. Api menyala di antara susunan batu, sementara kayu bakar menjadi sumber panas untuk menyiapkan hidangan.
Pemandangan semacam itu masih mudah ditemui di Desa Gedugan, salah satu desa di Kecamatan Pulau Giligenting, Madura, Jawa Timur. Di tengah penggunaan gas elpiji yang semakin umum, warga masih mempertahankan kayu bakar sebagai pilihan untuk memasak, terutama ketika harus menyiapkan makanan dalam jumlah besar.
Suasana memasak dengan kayu bakar biasanya semakin terasa ketika warga menggelar hajatan, seperti resepsi pernikahan, peringatan Maulid Nabi, maupun kegiatan masyarakat lainnya. Pada malam hari, tungku-tungku sederhana tetap menyala, mengiringi aktivitas warga yang menyiapkan berbagai hidangan untuk keluarga maupun tamu. Kayu bakar dinilai mampu menghasilkan panas yang sesuai untuk memasak dalam jumlah banyak.
Salah seorang warga Giligenting, Mas’od, mengatakan penggunaan kayu bakar telah dilakukan masyarakat sejak dahulu dan hingga kini masih dipertahankan. Menurutnya, untuk kebutuhan memasak dalam skala besar, kayu bakar justru dianggap lebih cepat dan praktis. Tungku yang digunakan pun masih sederhana, yakni menggunakan susunan batu sebagai penyangga alat masak.
“Ini sudah sejak dari dulu seperti itu, dan hingga saat ini masih dilestarikan,” kata Mas’od.
Selain alasan kepraktisan, faktor biaya turut membuat warga tetap mempertahankan penggunaan kayu bakar. Gas elpiji harus didatangkan dari daratan menggunakan perahu, sehingga harganya dapat menjadi lebih mahal. Sementara itu, kayu yang tersedia di sekitar pulau masih bisa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan memasak.
Tokoh masyarakat setempat, Miftahul Arifin, membenarkan bahwa penggunaan kayu bakar telah menjadi kebiasaan masyarakat Giligenting sejak lama. Menurutnya, kayu yang tersedia di wilayah pulau dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat daripada dibiarkan menjadi limbah atau sampah yang berpotensi terbawa ke pantai.
“Daripada dibuang dan menjadi sampah pantai, lebih baik untuk memasak. Selain hemat, juga menjaga sampah,” ujarnya.
Bagi warga Desa Gedugan, Kecamatan Pulau Giligenting, tungku batu dan kayu bakar bukan sekadar pilihan di tengah keterbatasan akses terhadap bahan bakar. Kebiasaan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan bertahan lintas generasi. Ketika malam semakin larut dan aktivitas di desa mulai mereda, nyala api dari tungku kayu masih menjadi pemandangan yang menghangatkan, menjaga tradisi sekaligus memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....