Refleksi 30 Tahun Kudatuli, PDIP Sumenep Ajak Masyarakat Rawat Demokrasi
- 27 Jul 2026 23:31 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli di Kabupaten Sumenep tidak hanya menjadi agenda mengenang sejarah, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga demokrasi dan persatuan.
DPC PDI Perjuangan Sumenep menggelar kegiatan refleksi dan doa bersama di kantor partai setempat, Jalan Lingkar Barat, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Senin, 27 Juli 2026. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga perwakilan organisasi kepemudaan.
Ketua DPC PDI Perjuangan Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, perjalanan demokrasi Indonesia tidak terlepas dari berbagai dinamika dan peristiwa sejarah yang harus menjadi bahan pembelajaran.
Menurutnya, Kudatuli merupakan salah satu peristiwa yang menunjukkan bahwa demokrasi membutuhkan komitmen bersama agar tetap berjalan dalam koridor yang menghargai perbedaan.
“Peristiwa Kudatuli menjadi bagian dari catatan perjalanan bangsa. Dari sana kita belajar bahwa demokrasi harus dijaga dengan cara-cara yang mengedepankan persatuan,” ujar Fauzi.
Ia menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah, peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa, orang hilang, serta korban luka-luka dan trauma. Karena itu, momentum peringatan tidak diarahkan untuk menghidupkan kembali persoalan masa lalu, melainkan memperkuat kesadaran agar konflik serupa tidak terulang.
“Yang terpenting adalah mengambil nilai dari sejarah, memperkuat persaudaraan, dan menjaga Indonesia tetap dalam semangat gotong royong,” katanya.
Kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antarorganisasi. Hadir dalam acara itu Ketua PCNU Sumenep, Ketua PD Muhammadiyah Sumenep, Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), serta sejumlah perwakilan organisasi kepemudaan.
Selain doa bersama dan tahlil, rangkaian acara diisi dengan pembacaan puisi oleh budayawan Ibnu Hajar serta orasi sejarah Kudatuli yang disampaikan kader PDI Perjuangan Darul Hasyim Fath.
Melalui refleksi tersebut, para peserta mengajak masyarakat untuk menjadikan sejarah sebagai pijakan dalam memperkuat kehidupan demokrasi yang damai dan menghargai keberagaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....