Biaya Produksi Tembakau 2026 Meningkat, Petani Pasongsongan Minta Harga Sesuai

  • 22 Jul 2026 11:55 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Petani tembakau di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, berharap pemerintah mempertimbangkan kenaikan biaya produksi dalam penetapan Titik Impas Harga Tembakau (TIHT) Tahun 2026. Pasalnya, biaya budidaya pada musim tanam tahun ini dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Koordinator Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Pasongsongan, Masyuni Ramadhan, mengatakan pada musim tanam 2025 biaya produksi relatif lebih rendah. Namun, kualitas tembakau saat itu menurun akibat curah hujan yang tinggi sehingga harga jual di tingkat petani tidak sesuai harapan.

"Kalau kita ulas pada tahun 2025, memang biaya produksi tembakau lebih irit. Namun, karena faktor hujan kualitas tembakau kurang bagus sehingga harga jualnya juga tidak baik," kata Masyuni Ramadhan, Rabu 22 July 2026.

Memasuki musim tanam 2026, kondisi justru berbeda. Menurut Masyuni, petani harus mengeluarkan biaya yang lebih besar karena sempat mengalami kesulitan memperoleh BBM subsidi. Akibatnya, sebagian petani menggunakan BBM non-subsidi yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional.

"Di tahun 2026 biaya tanam tembakau jauh lebih mahal. Kemarin petani kesulitan mendapatkan BBM subsidi sehingga banyak yang memakai BBM non-subsidi. Kondisi ini tentu menambah biaya produksi," ujarnya.

Ia berharap pemerintah menjadikan tingginya biaya produksi sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan harga tembakau tahun ini agar petani tetap memperoleh keuntungan yang layak.

"Harapan petani di tahun 2026, pemerintah bisa mendengar aspirasi kami. Kalau biaya produksi meningkat, tentu harga tembakau juga perlu disesuaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....