Penyuluh Kemenag Sumenep Soroti Ironi Orang Rajin Ibadah tapi Suka Sakiti Orang
- 18 Jul 2026 10:42 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Manusia modern kerap terjebak pada pencapaian materi dan melupakan esensi keseimbangan hidup yang sesungguhnya. Menikmati kebahagiaan sejati hanya bisa terwujud apabila seseorang mampu menyelaraskan kesalehan ritual kepada Sang Pencipta dengan kesalehan sosial kepada sesama.
Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kabupaten Sumenep, Ustadz Washilur Rahman, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena sosial yang jamak ditemui sehari-hari. Ia menyoroti adanya ironi di mana seseorang tampak sangat taat dalam beribadah ritual, namun perilakunya justru berbanding terbalik di lingkungan keluarga maupun tetangga. Menurutnya, ibadah kepada Tuhan sejatinya tidak berhenti pada ritual semata, melainkan harus melahirkan dampak sosial yang nyata.
"Saat ini kita sering menjumpai ironi. Ada orang yang tak pernah tertinggal shalat berjamaah lima waktu, puasa sunnah dijalani silih berganti, dan fasih melafalkan ayat Al-Quran. Namun di rumah, tangannya ringan menyakiti istri dan anak, suaranya keras, serta wajahnya muram terhadap tetangga. Menjadi religius tetapi gemar menyakiti orang lain sesungguhnya adalah sebuah kegagalan dalam menangkap ruh ibadah itu sendiri," jelasnya dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Sumenep, Sabtu, 18 Juli 2026.
Lebih lanjut, Ustadz Washilur Rahman menjelaskan bahwa Allah SWT telah menggariskan dua misi hubungan manusia yang tidak boleh dipisahkan, yaitu hablum minallah dan hablum minannas. Merujuk pada Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 10 dan Surah Ar-Ra'd ayat 28, iman harus melahirkan sikap persaudaraan, kasih sayang, dan ketenteraman jiwa. Melalui kedekatan spiritual, seseorang akan meraih ketenangan batin, sedangkan melalui harmoni sosial yang didasarkan pada asas kemanfaatan, seorang muslim dapat menjadi pribadi yang membawa kedamaian bagi sekitarnya.
Ustadz Washilur Rahman membagikan sejumlah tips praktis bagi umat, di antaranya adalah dengan menjaga kualitas kekhusyukan shalat sebagai benteng dari perbuatan keji dan mungkar, membasahi lisan dengan zikir dan Al-Quran, serta aktif mencari lingkungan pergaulan yang saleh.
Keterkaitan erat antara kualitas iman dan keindahan perilaku ini kemudian diibaratkan seperti pohon dan buahnya. Mustahil sebuah pohon memiliki akar yang sehat namun menghasilkan buah yang busuk atau beracun. Akhlak yang menyejukkan adalah cerminan nyata dari kesempurnaan iman seseorang, yang diwujudkan melalui sikap jujur, santun, peduli, pemaaf, serta mampu membawa rasa aman dan menjadi solusi di tengah-tengah problem kemasyarakatan.
Di akhir, Ustadz Washilur Rahman mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai ajang refleksi dan renungan mendalam terhadap kualitas ibadah masing-masing.
"Mari tanyakan pada hati kita, sejauh mana shalat dan Al-Quran yang kita baca setiap hari sudah melembutkan tutur kata kita kepada keluarga dan tetangga. Ketika kita mampu memadukan ibadah yang ikhlas kepada Allah dengan sikap santun dan peduli kepada sesama, saat itulah harmoni spiritual dan sosial terwujud, sehingga lingkungan kita menjadi sejuk, penuh berkah, dan jauh dari permusuhan," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....