Jangan Tertipu Kemasan, Belajarlah Memuliakan Manusia dengan Hati

  • 05 Jul 2026 03:22 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep — “Jangan mudah terpesona oleh kulit luarnya.”

Kalimat itu terus terngiang dalam benak saya setelah menghadiri pertemuan rutin bulanan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sumenep, Sabtu (4/7/2026). Pertemuan yang berlangsung di kediaman Hj. Mutmainnah tersebut terasa berbeda dari biasanya.

Jika pada umumnya pertemuan diisi dengan diskusi seputar tugas dan program kepenyuluhan, kali ini rangkaian puncak Peaceful Muharram 1448 Hijriah dikemas melalui kegiatan Event Sharing is Caring (ESC). Selain berdialog mengenai isu disabilitas, kegiatan juga diakhiri dengan penyerahan santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas.

Yang paling membekas dalam ingatan saya bukanlah besarnya santunan yang diberikan, melainkan senyum tulus para penerima manfaat. Senyum yang membuat saya merenung cukup lama.

Di antara para penerima santunan, saya kembali bertemu dengan sahabat saya, Ustaz Aswari, yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Beliau merupakan penyuluh agama penyandang tunadaksa. Langkahnya memang tidak secepat kebanyakan orang. Namun dalam hal semangat pengabdian, saya justru sering merasa tertinggal jauh di belakangnya.

Saya mengenal beliau sebagai sosok yang tidak pernah menjadikan keterbatasan fisik sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Dedikasi, prestasi, dan ketulusannya berbicara jauh lebih lantang daripada kondisi fisiknya.

Dari pertemuan itu saya menyadari bahwa mungkin yang selama ini memiliki keterbatasan bukanlah mereka, melainkan cara pandang kita terhadap mereka.

Terpesona oleh Kemasan

Kita hidup di zaman yang mudah terpesona oleh kemasan. Kita lebih cepat memberi penghormatan kepada seseorang yang datang dengan pakaian rapi daripada mereka yang datang dengan tongkat penyangga. Kita lebih mudah memberi ruang kepada orang yang memiliki jabatan daripada mereka yang hanya membawa harapan.

Sering kali manusia diukur dari manfaat duniawinya, bukan dari kemuliaan hatinya. Padahal manusia ibarat telepon genggam yang layarnya retak. Banyak orang tergesa-gesa menilainya rusak karena tampilan luarnya, padahal seluruh sistem di dalamnya masih berfungsi dengan baik. Sebaliknya, ada yang tampak sempurna dari luar, tetapi menyimpan banyak kerusakan di dalam dirinya.

Begitulah manusia. Mata sering kali bekerja lebih cepat daripada hati.

Ketika Nabi Ditegur karena Abdullah bin Ummi Maktum

Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada kisah yang sangat terkenal dalam sejarah Islam. Sebuah peristiwa yang menjadi pelajaran berharga bagi seluruh umat hingga akhir zaman.

Suatu ketika Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Di hadapan beliau hadir sejumlah tokoh berpengaruh yang diharapkan dapat menerima Islam sehingga dakwah semakin kuat dan mudah diterima masyarakat.

Di tengah percakapan itu datang Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang tunanetra sejak lahir. Karena tidak dapat melihat situasi di sekitarnya, ia hanya mendengar suara Rasulullah SAW dan berkata dengan penuh harap, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku dan bacakan ayat-ayat Allah.”

Saat itu Rasulullah SAW sedang fokus berdialog dengan para pemuka Quraisy. Beliau bermuka masam dan berpaling. Bukan karena membenci Abdullah, melainkan karena sedang mempertimbangkan strategi dakwah menurut ukuran manusia.

Namun Allah SWT memiliki ukuran yang berbeda.

Maka turunlah Surah Abasa ayat 1 sampai 8 yang berisi teguran kepada Rasulullah SAW.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya.”

Teguran tersebut bukan sekadar pelajaran etika bagi Rasulullah SAW. Lebih dari itu, Allah SWT sedang mendidik seluruh umat Islam agar tidak menilai seseorang berdasarkan status sosial, kekuasaan, ataupun kondisi fisiknya.

Orang yang tampak kecil di mata manusia bisa jadi jauh lebih mulia di sisi Allah SWT dibanding mereka yang diagungkan dunia.

Penyakit Sosial yang Masih Ada

Bukankah penyakit itu masih hidup hingga sekarang?

Kita masih sering memilih-milih dalam memperlakukan manusia. Kita berebut duduk di dekat pejabat, tetapi membiarkan orang kecil duduk sendirian. Kita menyediakan panggung megah bagi tokoh terkenal, tetapi lupa menyediakan akses yang layak bagi penyandang disabilitas.

Kita sibuk menghitung manfaat, jaringan, dan keuntungan, lalu tanpa sadar mulai mengukur nilai seseorang berdasarkan apa yang dapat ia berikan kepada kita.

Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1,3 miliar penduduk dunia hidup dengan disabilitas. Hambatan terbesar yang mereka hadapi bukan semata-mata kondisi fisik, melainkan lingkungan yang belum sepenuhnya inklusif serta stigma yang masih melekat di tengah masyarakat.

Barangkali karena itulah Allah SWT memilih Abdullah bin Ummi Maktum sebagai sebab turunnya ayat dalam Surah Abasa. Bukan hanya untuk membela seorang tunanetra, tetapi juga untuk meluruskan cara pandang manusia terhadap sesamanya.

Allah SWT tidak menegur Rasulullah SAW karena gagal berdakwah. Allah SWT menegur beliau karena ada hati yang tulus yang sempat terlewatkan.

Belajar dari Ustaz Aswari

Saya kembali teringat kepada Ustaz Aswari. Bisa jadi langkah beliau lebih lambat daripada saya. Namun bukan tidak mungkin beliau lebih dahulu sampai kepada rida Allah SWT. Sementara saya yang dikaruniai fisik lengkap masih sering terlambat memperbaiki hati.

Saya pulang dari pertemuan itu dengan membawa oleh-oleh yang tidak dibungkus plastik. Saya membawa sebuah teguran, teguran penuh cinta bagi diri sendiri.

Bahwa memuliakan manusia tidak dimulai dari memberi santunan, melainkan dari mengubah cara pandang. Santunan mungkin habis dalam hitungan hari, tetapi penghormatan mampu menjaga martabat seseorang sepanjang hidupnya.

Karena itu, mari belajar menyapa sebelum diminta. Mari belajar menyediakan ruang yang ramah bagi penyandang disabilitas, bukan sekadar rasa kasihan. Mari belajar melihat hati sebelum melihat kondisi fisik, jabatan, atau isi dompet seseorang.

Sebab bisa jadi orang yang hari ini kita anggap biasa saja justru memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim).

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari kesombongan yang tersembunyi dan menghadiahkan mata batin yang mampu melihat kemuliaan dalam diri setiap manusia.

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba'ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinaabah.

Sebab surga bukan dihuni oleh mereka yang paling dipandang manusia, melainkan oleh mereka yang paling dimuliakan Allah SWT.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....