Bagi Petani Tembakau, Hujan Tak Selalu Jadi Berkah

  • 30 Jun 2026 11:23 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Musim kemarau identik dengan langit cerah dan minim hujan. Bagi sebagian orang, kondisi itu terasa menyengat dan kurang nyaman. Namun, bagi petani tembakau, kemarau justru menjadi musim yang paling dinantikan. Cuaca yang kering diyakini menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas daun tembakau sekaligus harga jual saat panen.

Petani tembakau asal Kecamatan Batuputih, Jazuli, Selasa 30 juni 2026, mengatakan anggapan bahwa petani selalu mengharapkan hujan tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, saat tanaman memasuki masa pembesaran daun hingga panen, cuaca cerah tanpa hujan justru menjadi harapan utama.

"Kalau sudah masuk musim pembesaran daun sampai panen, kami lebih senang cuaca tetap kering. Hujan justru bisa menurunkan kualitas tembakau," ujarnya.

Jazuli menjelaskan, daun tembakau yang tumbuh pada kondisi cuaca kering memiliki kualitas yang lebih baik. Kadar air daun lebih sesuai sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat dan hasil akhirnya memiliki mutu yang tinggi. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap nilai jual tembakau di pasaran.

Sebaliknya, hujan yang turun pada musim kemarau, terutama menjelang panen, dapat menjadi ancaman bagi petani. Kelembapan udara yang tinggi membuat tanaman lebih rentan terserang penyakit, seperti jamur dan bakteri. Selain itu, daun yang basah membutuhkan waktu lebih lama untuk dikeringkan sehingga meningkatkan risiko kerusakan selama proses pascapanen.

Meski demikian, bukan berarti petani tembakau sama sekali tidak membutuhkan hujan. Jazuli menuturkan, air tetap menjadi kebutuhan penting pada awal musim tanam. Kelembapan tanah yang cukup membantu bibit beradaptasi, memperkuat perakaran, dan mendukung pertumbuhan awal tanaman.

"Kalau awal tanam memang butuh air. Kalau kemaraunya terlalu kering, kami biasanya menyiram atau berharap ada hujan ringan," katanya.

Menurutnya, hujan yang turun sebelum penanaman atau pada fase awal pertumbuhan masih memberikan manfaat selama tidak menimbulkan genangan. Setelah tanaman mulai membentuk daun secara optimal, kebutuhan terhadap hujan justru berkurang. Pada fase itu, cuaca kering dinilai lebih mendukung pembentukan kualitas daun.

Karena alasan tersebut, petani di Kecamatan Batuputih umumnya mulai menanam tembakau pada akhir musim hujan atau saat awal musim kemarau. Pola tanam ini dipilih agar tanaman memperoleh pasokan air yang cukup pada fase awal, kemudian tumbuh hingga dipanen ketika curah hujan mulai rendah. Dengan demikian, kualitas daun yang dihasilkan dapat lebih maksimal.

Jazuli berharap kondisi cuaca pada musim tanam tahun ini tetap bersahabat sehingga hasil panen sesuai harapan. Menurutnya, keseimbangan antara ketersediaan air di awal pertumbuhan dan cuaca kering menjelang panen menjadi kunci keberhasilan budidaya tembakau.

"Yang kami harapkan bukan hujan terus atau kemarau terus, tetapi cuaca yang sesuai dengan kebutuhan tanaman di setiap fasenya," pungkasnya.(Zal)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....