BRIDA Sumenep Catat 217 Inovasi, Pelayanan Publik Kian Digital

  • 26 Jun 2026 13:41 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mencatat sebanyak 217 inovasi daerah lahir sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencapai 53 inovasi.

Kepala BRIDA Kabupaten Sumenep Siswahyudi Bintoro mengatakan peningkatan jumlah inovasi tersebut menjadi indikator tumbuhnya budaya inovasi di berbagai sektor, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), puskesmas, kecamatan, kelurahan, BUMD, lembaga pendidikan hingga masyarakat.

"Tahun 2025 tercatat sebanyak 217 inovasi dari berbagai sektor. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang hanya 53 inovasi. Ini menunjukkan budaya inovasi di Kabupaten Sumenep terus berkembang," kata Siswahyudi, Kamis, 25 Juni 2026.

Menurut dia, inovasi yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada digitalisasi pelayanan publik, tetapi juga diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan strategis daerah.

"Seluruh inovasi yang lahir diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, mempercepat penurunan kemiskinan, menekan angka kematian ibu dan anak, mengatasi stunting, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Dari total 217 inovasi tersebut, sebanyak 73 inovasi berasal dari OPD dan 105 inovasi dikembangkan oleh puskesmas. Selebihnya merupakan inovasi dari kecamatan, kelurahan, BUMD, lembaga pendidikan, UMKM, dan masyarakat.

BRIDA menjadi salah satu OPD dengan jumlah inovasi terbanyak melalui delapan program, yakni SIMBRIDA, DIGAJI, KERIS, Jurnal Karaton, Live Podcast BRIDA, Sumenep Technolab, SISTA MITRA, dan Smart PKL berbasis IoT-MQTT.

Selain itu, sejumlah OPD juga mengembangkan inovasi pelayanan publik, di antaranya BKAD dengan SADeKaH, DPMPTSP melalui SINANTI, Bappeda dengan SIMPEL, BKPSDM melalui LAYAK MANIS dan SILAHKAN, serta Disdukcapil yang menghasilkan 13 inovasi, mulai dari SIKERIS, PDKT, ANANDA KITA, CENDEKIA, CITA SAMAWA, DUTA POS, SPONTAN, hingga PADUKA.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana juga melahirkan sejumlah inovasi, seperti SIGAP IBU, SIAP LAHIR, EATORE, DELIMA, ANTI MAGER, MATA STUNTING, SIPATIKA, GERCEP SEHAT, hingga SPODS SPM.

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mengembangkan PETANI, SI LAHAN, DPPP, TEKEN, dan E-Pindah. Inovasi juga lahir dari perangkat daerah lainnya di bidang perpajakan, lingkungan hidup, pendidikan, perpustakaan, pemerintahan, hingga pelayanan kesehatan.

Pada tingkat kecamatan, inovasi berasal dari Talango, Pasongsongan, Raas, Batuan, Guluk-Guluk, Rubaru, Pragaan, Saronggi, Batuputih, dan Sapeken. Di antaranya melalui program JAMPER+, SEMANGKA TALANGO, DHAPOR, SUPER PENTING, PASTE DIGITAL, SAMBAT, SIMPEDES, SAPOAN, CENTINI, BERAS TUMPANG, KAPEDAL, dan JEBOL WATI.

Kontribusi terbesar berasal dari sektor kesehatan dengan 105 inovasi yang dikembangkan seluruh puskesmas di Kabupaten Sumenep. Berbagai inovasi tersebut berfokus pada pelayanan ibu dan anak, percepatan penurunan stunting, pengendalian tuberkulosis, penyakit tidak menular, kesehatan jiwa, hingga digitalisasi layanan kesehatan.

Kelurahan Kepanjin, PT BPRS Bhakti Sumekar (Perseroda), sejumlah lembaga pendidikan, UMKM, hingga komunitas masyarakat juga turut menyumbangkan berbagai inovasi sesuai bidang masing-masing.

Siswahyudi menilai keterlibatan seluruh elemen tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat pelayanan publik berbasis inovasi di Kabupaten Sumenep.

"Kami ingin inovasi tidak hanya lahir di lingkungan pemerintah daerah, tetapi juga tumbuh di puskesmas, kecamatan, sekolah, BUMD, pelaku UMKM, hingga masyarakat. Semakin banyak pihak yang berinovasi, semakin besar dampaknya terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat," katanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....