Hari Lahir Pancasila: Tajalli Jiwa Nusantara dalam Ruang Kebangsaan

  • 01 Jun 2026 12:10 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Tanggal 1 Juni bukan sekadar hari lahir sebuah dasar negara. Ia adalah hari ketika pengalaman batin yang telah berabad-abad hidup dalam jiwa Nusantara menemukan bentuk bahasanya di ruang sejarah.

Apa yang kemudian disebut Pancasila sesungguhnya bukan sekadar hasil perumusan para pendiri bangsa. Ia adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang telah lama bersemayam dalam kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Sebelum ditulis dalam naskah, ia telah hidup dalam laku. Sebelum diucapkan dalam sidang, ia telah berdenyut dalam kebudayaan.

Para arif Jawa mengajarkan bahwa segala sesuatu yang tampak di alam lahir sesungguhnya merupakan pancaran dari sesuatu yang lebih dahulu hidup di alam batin. Sebagaimana pohon besar tersembunyi dalam benih kecil, demikian pula bangsa yang besar selalu berawal dari nilai-nilai yang tumbuh dalam jiwa masyarakatnya.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Karena itu, lahirnya Pancasila dapat dipandang sebagai buah dari perjalanan panjang kesadaran batin bangsa Indonesia dalam memahami Tuhan, manusia, dan kehidupan bersama.

Ketuhanan: Kesadaran Akan Yang Satu

Dalam perspektif tasawuf falsafi, seluruh keberagaman alam pada hakikatnya merupakan manifestasi dari Kehendak Yang Maha Esa. Para sufi menyebutnya sebagai tajalli, yaitu penampakan sifat-sifat Ilahi pada alam semesta.

Para arif billah mengatakan:

الكون كله خيال والحق فيه هو الله

"Seluruh alam adalah penampakan, sedangkan Realitas Sejati di dalamnya adalah Allah."

Maksudnya bukan bahwa alam adalah Allah, melainkan bahwa keberadaan seluruh makhluk bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Keberagaman tidak menafikan kesatuan, justru menunjukkan keluasan manifestasi-Nya.

Karena itulah sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa", bukan sekadar pengakuan teologis, tetapi juga kesadaran ontologis bahwa seluruh kehidupan bersumber dari Yang Satu.

Al-Qur'an menegaskan:

"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali."

(QS. Al-Baqarah: 156)

Inilah yang dalam khazanah kearifan Jawa dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi, yakni memahami dari mana segala sesuatu berasal dan ke mana semuanya akan kembali.

Kemanusiaan: Memuliakan Sesama Ciptaan

Ketika manusia menyadari asal-usul yang sama, maka lahirlah sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab."

Sebab tidak mungkin seseorang mengaku mengenal Tuhan tetapi merendahkan manusia yang merupakan ciptaan-Nya.

Allah berfirman:

"Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam."

(QS. Al-Isra': 70)

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Semakin dalam seseorang mengenal Tuhan, semakin luas kasih sayangnya kepada makhluk. Dalam bahasa tasawuf, cinta kepada Al-Khaliq harus memancar menjadi cinta kepada makhluk.

Persatuan: Kesatuan di Tengah Keragaman

Dari kesadaran inilah lahir sila ketiga, "Persatuan Indonesia."

Para sufi sering berbicara tentang al-wahdah fi al-katsrah, kesatuan dalam keragaman. Banyaknya bentuk tidak menghilangkan kesatuan asalnya.

Seperti cahaya matahari yang memantul pada ribuan titik embun. Pantulannya berbeda-beda, tetapi sumber cahayanya tetap satu.

Allah berfirman:

"Wahai manusia, Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal."

(QS. Al-Hujurat: 13)

Karena itu, persatuan bukanlah penyeragaman. Persatuan adalah kemampuan melihat kesatuan hakikat di balik keragaman bentuk.

Para leluhur Nusantara merumuskannya dalam ungkapan:

Bhinneka Tunggal Ika

Berbeda-beda tetapi tetap satu.

Musyawarah: Jalan Menuju Hikmah

Sila keempat, "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan", lahir dari kesadaran bahwa kebenaran tidak boleh dikurung oleh ego pribadi.

Al-Qur'an memuji orang-orang beriman:

"Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka."

(QS. Asy-Syura: 38)

Musyawarah adalah bentuk kerendahan hati intelektual. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak pernah memiliki seluruh kebenaran.

Karena itu Imam Syafi'i berkata:

"Pendapatku benar tetapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar."

Kebijaksanaan selalu lahir dari kerendahan hati.

Keadilan: Buah Kematangan Spiritual

Ketika ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, serta kebijaksanaan telah terwujud, maka lahirlah sila kelima, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia."

Sebab keadilan adalah buah dari kesadaran spiritual yang matang.

Sebagaimana dikatakan:

الشريعة كلها عدل ورحمة ومصالح وحكمة

"Syariat seluruhnya adalah keadilan, rahmat, kemaslahatan, dan hikmah."

Maka setiap keberagamaan yang melahirkan kezaliman sejatinya telah menjauh dari tujuan agama itu sendiri.

Tantangan Pancasila di Masa Kini

Sesungguhnya ancaman terbesar terhadap Pancasila bukanlah perbedaan pendapat, melainkan hilangnya kebijaksanaan. Sebab ketika hikmah lenyap, agama berubah menjadi alat permusuhan, nasionalisme berubah menjadi kesombongan, dan demokrasi berubah menjadi perebutan kepentingan.

Hari Lahir Pancasila mengajak kita kembali kepada akar batinnya. Sebab bangsa tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung tinggi, dan teknologi. Bangsa dibangun oleh nilai-nilai yang hidup dalam hati manusia.

Para leluhur Jawa berpesan:

Urip iku urup.

Hidup adalah memberi cahaya.

Maka Pancasila adalah cahaya yang lahir dari perjalanan panjang bangsa ini dalam mencari titik temu antara agama dan budaya, antara langit dan bumi, antara Yang Satu dan yang banyak.

Sebagaimana diungkapkan para arif Jawa:

Manunggaling rasa ing sajroning beda, lan bedaning rupa ing sajroning tunggal.

Kesatuan rasa di tengah perbedaan, dan perbedaan bentuk di dalam satu hakikat.

Dalam bahasa Al-Qur'an ditegaskan:

"Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah."

(QS. Al-Baqarah: 115)

Yakni bahwa tanda-tanda kebesaran-Nya terpancar di seluruh penjuru kehidupan.

Maka memperingati Hari Lahir Pancasila bukan hanya mengenang sebuah pidato pada tahun 1945. Ia adalah upaya menghidupkan kembali kesadaran bahwa bangsa ini dibangun oleh mereka yang mampu melihat kesatuan di tengah keragaman.

Karena pada akhirnya, sebagaimana diajarkan para sufi, perjalanan manusia selalu bergerak dari Yang Satu, menempuh yang banyak, lalu kembali kepada Yang Satu.

Dan di antara perjalanan itulah Indonesia menemukan dirinya.

Al-Faqir

KH. Achmad Qusyairi Zaini

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....