Dira & Raida, No FOMO Dinilai Tanda Berani
- 13 Mei 2026 22:30 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep : Fenomena takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO) menjadi perhatian di kalangan remaja. Namun, dua anggota PIK-R Mutiara Hidayah SMPIT Al-Hidayah Sumenep, Raida Nur Fakhirah dan Rifda Nadhira Nurhasfia, menilai tidak mengikuti tren bukan berarti ketinggalan zaman, melainkan bentuk keberanian mempertahankan prinsip diri.
Hal itu mereka sampaikan dalam dialog interaktif di RRI Pro2 Sumenep bertema “No FOMO, Gak Ikut Tren Emang Salah?” yang disiarkan melalui radio dan media sosial, pada Rabu, 13 Mei 2026.
Raida Nur Fakhirah mengatakan remaja saat ini harus mampu memilah tren yang layak diikuti dan yang justru berdampak negatif bagi masa depan.
“Tidak semua tren harus diikuti. Kita harus mencari dulu apakah itu baik atau tidak untuk diri kita,” ujar Raida.
Menurutnya, banyak remaja mengikuti tren hanya karena takut dianggap ketinggalan zaman atau tidak gaul di lingkungan pertemanan. Padahal, sikap tersebut bisa membuat seseorang kehilangan kenyamanan diri sendiri.
Ia mencontohkan fenomena pacaran usia dini dan hubungan tanpa status (HTS) yang kini dianggap lumrah di kalangan remaja. Raida menilai hal itu dapat mengganggu fokus belajar dan perkembangan pendidikan.
“Anak remaja seharusnya fokus mengejar pendidikan dulu, bukan memikirkan pacaran,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan Rifda Nadhira Nurhasfia. Ia menegaskan bahwa menjadi diri sendiri jauh lebih penting dibanding mengikuti arus demi diterima lingkungan sosial.
“Kalau jadi diri sendiri berarti kita punya prinsip. Tidak harus ikut-ikutan orang lain,” ujar Rifda.
Dalam dialog tersebut, keduanya juga menyoroti tren barang viral yang dianggap berlebihan, salah satunya boneka Labubu yang sempat ramai di media sosial. Mereka menilai banyak orang membeli barang mahal hanya demi gengsi dan mengikuti tren sesaat.
Selain itu, Raida dan Rifda mengingatkan bahwa FOMO tidak selalu berdampak buruk apabila diarahkan pada hal positif, seperti semangat mengikuti lomba, belajar, atau mengembangkan kemampuan diri.
“Kalau FOMO untuk hal positif seperti ikut olimpiade atau belajar, itu justru bagus,” kata Rifda.
Di akhir dialog, keduanya mengajak remaja untuk lebih bijak dalam menentukan pilihan dan tidak memaksakan diri demi pengakuan sosial.
“Stop FOMO guys, jangan ikut-ikutan yang tidak relevan dengan diri kita. Kita harus bijak memilih,” ucap keduanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....