Menghadirkan dan Merawat Ruh RA Kartini

  • 19 Apr 2026 18:18 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep : Mari kita mulai membicarakan RA Kartini dengan membahas Feminisme yang beliau bawa yang sering disebut sebagai Feminisme Nusantara. Secara tersirat, faham ini tertuang dalam tulisan beliau pada salah satu suratnya pada gubernur Hindia Belanda, “Saya minta Anda memberikan akses pendidikan para perempuan pribumi agar mereka berdaya, tidak untuk menyaingi laki-laki namun bekerjasama menyempurnakan tugas mereka pada peradaban”.

Penggalan isi surat tersebut merupakan sintesa dari feminisme yang berkembang di Barat (pemenuhan hak-hak dasar manusia) dan faham Ketuhanan yang menjadi ciri khas masyarakat Timur.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekcab Koalisi Perempuan Indonesia KPI Sumenep, Nunung Fitriana. Kepada RRI, Nunung menuturkan, RA Kartini layaknya para perempuan hebat yang pernah hidup di bumi Nusantara seperti Dyah Ayu Gayatri, Ratu Kalinyamat, Ratu Shima, Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika dan masih banyak yang lain meyakini jika keberdayaan harus bermuara pada kebermanfaatan. Dua poin dalam faham ini adalah pemenuhan hak-hak dasar manusia yaitu hak hidup, hak berpendidikan dan berbicara. Ketiga hak dasar ini wajib dipenuhi agar manusia bisa berdaya. Kedua adalah nilai kebermanfaatan. Setiap agama mewajibkan setiap manusia untuk saling memberi pertolongan dan menghadirkan kemaslahatan bagi semesta.

Menurut Nunung, dua poin tersebut yang setidaknya bisa kita jadikan tolak ukur membaca sejauh mana emansipasi perempuan terjadi hari ini. “Di poin pertama, jelas kita melihat bagaimana perempuan Indonesia telah mendapatkan akses pada pendidikan dan memiliki kesempatan berkiprah, mengisi pos-pos strategis diruang publik. Dari poin kedua, sejauh mana perempuan mampu memiliki kontribusi positif pada peradaban, ditilik disisi ini jelas kuantitasnya lebih sedikit dari parameter pertama”, katanya.

Tentu kita tidak bisa meninggalkan salah satu parameter sebagai tolak ukur karena banyak Negara telah menunjukkan distruksinya pada peradaban. Kita melihat betapa Jepang hari ini mengalami krisis kependudukan, Amerika Serikat mengalami krisis moral pada anak mudanya. Hal ini terjadi karena feminisme hanya dipahami sebagai pembebasan, pemenuhan hak-hak dasar bagi perempuan, sehingga banyak perempuan yang berdaya justru menolak institusi pernikahan, meninggalkan relasi heteroseksual, menormalisasi kumpul kebo dan menolak memiliki anak.

Dikatakan Nunung, dalil dari semua itu jelas disampaikan Simone De Beauvoir bahwa akar keterjajahan perempuan adalah menjadi istri dan ibu. Lalu apakah fenomena ini nampak terjadi di Indonesia? Tidak sampai menolak institusi pernikahan atau menjadi ibu, perempuan di Indonesia justru dihadapkan pada hantu patriarki yang lebih halus propagandanya.

Saat ini kita hidup dalam jejaring sistem ekonomi kapitalis yang semakin gila dengan memanfaatkan dunia digital. Sistem ini nyaris menggerogoti semangat keberdayaan dan kebermanfaatan nyaris di semua level. Pada perempuan dengan level pendidikan menengah ke atas, menduduki posisi strategis, gaji dua digit, keunggulan potensi ini menjadi tidak bermakna karena mereka justru terbuai dengan gaya hidup hedon, glamour, berburu barang branded, liburan mewah atau bergumul membentuk kelompok sosialita. Keamanan finansial tidak membuat mereka sibuk memikirkan kontribusi positif bagi sekitarnya. Sementara di level menengah ke bawah, mau tidak mau mereka harus menerima skema dunia industri sebagai buruh. Tenaga mereka diperas habis eksploitasi dengan gaji yang hanya cukup untuk bertahan hidup. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin mereka memikirkan kebermanfaatan?. Diluar hal ini tentu saja, perempuan masih dihadapkan pada tradisi patriarki yang telah mengakar secara turun temurun. Hal ini terbukti dengan masih tingginya angka pernikahan dibawah umur, angka kekerasan seksual dan perceraian.

Lalu bagaimanakah kita merawat dan menumbuhkan semangat RA Kartini? Nunung Fitriana, Sekcab Koalisi Perempuan Indonesia KPI Sumenep mengatakan, pertama tentu saja menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sebab ini adalah fondasi yang memberikan kompas bagi keberdayaan manusia. Iman adalah tameng yang menyelamatkan kita dari tipu daya kapitalisme dan propagandanya yang berseliweran di gawai kita setiap detik. Kedua yaitu tradisi literasi, dimana kita tahu bahwa RA Kartini adalah pembaca akut, beliau membaca segala jenis literatur dari Timur sampai ke Barat. Lalu berani bersuara baik lewat kata-kata maupun tulisan-tulisannya. Dan terakhir adalah keberanian dalam berpihak atau menentukan jalan kebermanfaatan. Di ruang apa kita bisa berkontribusi, disitulah kita mulai bersuara dan bekerja. Terakhir, Nunung mengingatkan bahwa setiap masa ada orang dan tantangannya. Jika di zamannya RA Kartini berhadapan dengan patriarkhi dan pemerintah Kolonial Belanda. Sementara kita hari ini berhadapan dengan Kapitalisme, dan tentu saja patriarkhi yang masih juga lestari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....