Program Pelatihan Kerja Disnaker Sumenep Disorot DPRD

  • 12 Apr 2026 14:02 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Program pelatihan kerja yang dijalankan Dinas Ketenagakerjaan Sumenep mendapat perhatian dari kalangan legislatif. Output program dinilai perlu ditingkatkan agar benar-benar berdampak pada penyerapan tenaga kerja.

Anggota Komisi II DPRD Sumenep, Masdawi, menekankan pentingnya keberlanjutan program setelah pelatihan selesai.

Menurutnya, peserta tidak cukup hanya dibekali keterampilan, tetapi juga harus diarahkan hingga memperoleh pekerjaan sesuai kompetensinya.

“Jangan sampai peserta hanya dilatih tanpa ada tindak lanjut. Harus ada jaminan mereka bisa terserap di dunia kerja,” ujarnya. Minggu 12 April 2026

Ia juga menyoroti keterbatasan sarana yang dimiliki peserta, seperti alat kerja. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat penerapan keterampilan yang telah diperoleh. Selain itu, Masdawi mendorong agar proses seleksi peserta dilakukan lebih ketat, termasuk memperhatikan kesiapan dan dukungan fasilitas.

“jika tidak memiliki alat atau tidak ada kemitraan dengan dunia usaha, keterampilan yang baru dimilikiitu bisa tidak terpakai,” katanya.

Dari sisi metode pelatihan, ia menyarankan agar porsi praktik lebih dominan dibanding teori.

“Komposisinya sebaiknya lebih banyak praktik, sekitar 70 persen, agar peserta benar-benar terampil,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, dan Hubungan Industrial Disnaker Sumenep, Eko Ferryanto, menjelaskan program pelatihan telah disusun berbasis kompetensi sesuai standar nasional.

Ia menyebut, setelah pelatihan, peserta akan mengikuti uji kompetensi melalui lembaga sertifikasi profesi.

“Peserta tidak hanya memperoleh sertifikat pelatihan, tetapi juga sertifikat kompetensi langsung dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi,” katanya.

Pada tahun ini, Disnaker menyiapkan delapan paket pelatihan yang tersebar di wilayah daratan dan kepulauan. Enam paket dialokasikan untuk daratan dan dua paket untuk kepulauan, dengan jumlah peserta 16 orang per paket.

Eko menambahkan, peserta juga akan mendapatkan pendampingan serta informasi peluang kerja setelah pelatihan, baik untuk bekerja di perusahaan maupun berwirausaha.

Berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, tingkat serapan tenaga kerja dari program tersebut mencapai sekitar 80 hingga 85 persen.

“Sebagian peserta bekerja di perusahaan, dan sebagian lainnya memilih membuka usaha sendiri,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....