GP Ansor Sumenep Ajak Jaga Harmoni di tengah Perbedaan Idulfitri
- 20 Mar 2026 22:34 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kembali menjadi perhatian masyarakat. Namun, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumenep menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan hal wajar yang memiliki dasar keilmuan dan tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan.
Ketua PC GP Ansor Sumenep, KH. Qumri Rahman, menjelaskan bahwa perbedaan penentuan Idulfitri bersumber dari metode yang digunakan, yakni rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi).
“Perbedaan ini bukan tanpa dasar. Keduanya dilandasi ijtihad yang kuat. Ada yang menggunakan rukyat, ada pula yang menggunakan hisab. Jadi ini adalah perbedaan yang biasa,” ujarnya saat menjadi narasumber di dialog Sumenep Menyapa, Jum'at 20 Maret 2026.
Menurutnya, yang terpenting dalam menyikapi perbedaan tersebut adalah menjaga keharmonisan umat dengan mengedepankan sikap saling menghargai, menjaga persatuan, serta fokus pada persamaan sebagai sesama umat Islam.
Ia menekankan bahwa makna kembali ke fitrah tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyangkut kebersihan hati. Ego, kata dia, harus ditekan agar tidak memicu konflik di tengah masyarakat.
“Kesucian hati tidak akan tercapai jika kita membesarkan ego masing-masing. Maka yang perlu dilakukan adalah menurunkan ego demi menjaga keharmonisan,” katanya.
Selain itu, GP Ansor juga mengimbau masyarakat untuk mengacu pada keputusan pemerintah dalam penetapan hari raya guna menjaga keseragaman dan ketertiban.
“Keputusan pemerintah menjadi prioritas. Dengan begitu, perbedaan yang ada tidak perlu ditonjolkan secara berlebihan,” ucapnya.
Dalam menjaga kondusivitas, GP Ansor Sumenep turut berperan aktif melalui berbagai kegiatan sosial. Salah satunya dengan mendirikan posko mudik bekerja sama dengan aparat kepolisian guna memberikan pelayanan kepada masyarakat selama arus mudik Lebaran.
“Kami tetap menjunjung tinggi perbedaan, namun yang lebih penting adalah menjaga kondusivitas. Bahkan dalam momentum mudik, kami hadir memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak memperdebatkan perbedaan secara tidak sehat. Ia menilai, perdebatan kerap muncul dari pihak yang tidak memahami substansi perbedaan tersebut.
“Kalau masyarakat memahami bahwa ini perbedaan yang memiliki dasar, maka tidak akan menjadi perdebatan. Biasanya yang ramai justru yang tidak memahami atau tidak fokus pada ibadah,” katanya.
GP Ansor juga memperkuat peran kader melalui kegiatan keagamaan yang terstruktur, salah satunya melalui Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor yang tersebar hingga tingkat desa.
Dengan jaringan lebih dari 300 ranting di Sumenep, edukasi terkait toleransi dan pemahaman keagamaan terus disampaikan kepada generasi muda, termasuk dalam menghadapi dinamika di ruang digital.
“Kami dorong kader untuk aktif mengedukasi, khususnya di kalangan pemuda, agar lebih memahami dan menghargai perbedaan,” ujarnya tegas.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa perbedaan penetapan Idulfitri juga dapat menjadi sarana pembelajaran toleransi, terutama bagi generasi muda. Bahkan, GP Ansor kerap berkolaborasi dalam kegiatan sosial lintas agama sebagai wujud nyata menjaga kerukunan.
“Kami sering melakukan kegiatan sosial bersama pemuda lintas agama. Ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu,” ujarnya.
Terkait malam takbiran, GP Ansor Sumenep memastikan akan turut menyemarakkan dengan kegiatan takbir di berbagai tingkatan, baik di kecamatan maupun desa, serta berkolaborasi dengan tokoh agama dan masyarakat.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen pemuda di Kabupaten Sumenep untuk bersama-sama membangun daerah dengan semangat persatuan.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh pemuda, baik yang seagama maupun lintas agama, untuk bersama membangun Sumenep yang harmonis,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....