Kearifan Lokal di Pasar Kobhuren Pangarangan Sumenep
- 04 Feb 2026 19:37 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, Pasar Kobhuren Pangarangan menghadirkan wajah Sumenep yang lebih tenang, hangat, dan sarat kearifan lokal. Sejak pukul 04.30 WIB, pasar tradisional ini sudah hidup oleh aktivitas pedagang dan pembeli, diiringi semburat jingga di ufuk timur, desiran angin pagi, serta aroma khas kuliner tradisional yang memenuhi setiap sudut pasar.
Memasuki area pasar, pengunjung langsung disambut dengan aroma makanan khas yang menggugah selera. Pedagang bubur sumsum tampak sibuk menyajikan mangkuk-mangkuk hangat dengan siraman gula merah cair dan taburan kelapa parut. Tak jauh dari sana, penjual rap porap, nasi jagung, dan cengi otok khas Sumenep menawarkan cita rasa pedas yang khas. Salah satu pembeli, Moh. Yunus, mengaku sengaja memilih sarapan di pasar karena suasananya yang santai dan akrab, berbeda dengan tempat makan modern.
Lebih dari sekadar pusat jual beli, Pasar Kobhuren menjadi ruang interaksi sosial yang erat. Hubungan antara pedagang dan pembeli terjalin hangat, penuh sapaan, senyum, dan percakapan ringan. Banyak pedagang yang sudah mengenal pelanggan tetap mereka, memahami selera, bahkan kebutuhan sehari-hari, menciptakan suasana kekeluargaan yang jarang ditemui di pasar modern.
Komoditas yang diperdagangkan sebagian besar berasal dari hasil bumi masyarakat sekitar. Sayuran segar seperti kangkung, bayam, dan terong masih tampak berembun, menandakan kesegarannya. Sementara itu, ikan hasil tangkapan nelayan lokal tertata rapi di atas alas daun pisang. Bahan-bahan tradisional seperti rempah-rempah, tepung ketan, dan gula merah juga menjadi incaran para pembeli yang ingin memasak hidangan khas Madura.
Suasana pagi di pasar ini memiliki ritme yang lebih lambat dibandingkan siang hari. Tidak ada desak-desakan, setiap orang bergerak dengan santai sambil menikmati udara segar. Sesekali terdengar lantunan adzan dari masjid terdekat, berpadu dengan suara tawar-menawar, menciptakan harmoni antara aktivitas ekonomi dan spiritual.
Menjelang pukul 07.00 WIB, aktivitas pasar mulai meningkat seiring terbitnya matahari. Keluarga-keluarga berdatangan untuk membeli kebutuhan harian, sementara sebagian pengunjung lain sekadar menikmati suasana atau berbincang dengan kenalan. Meski semakin ramai, nuansa keramahan dan keteraturan tetap terjaga.
Pasar Kobhuren Pangarangan bukan sekadar tempat bertransaksi, tetapi juga cerminan kehidupan masyarakat Sumenep yang menjunjung kebersamaan, kesederhanaan, dan kearifan lokal. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi, nilai-nilai tradisional masih hidup dan terus dipertahankan oleh warga setempat. (Zal)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....