Anak Muda Perlu Paham Narkoba, Judi Online dan Pinjol
- 02 Feb 2026 15:53 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep : Isu narkoba kembali menjadi perhatian publik, khususnya di kalangan anak muda. Dalam perbincangan edukatif program Muda Gede yang disiarkan pada Senin pagi 2 Februari 2026, Noviana Laili Putri Ramdiyani, mahasiswi Program Studi S1 Keperawatan Universitas Wiraraja Sumenep, menegaskan pentingnya pemahaman utuh terkait narkoba, judi online, pinjaman online, serta isu ganja medis yang kerap disalahartikan di masyarakat.
Noviana menjelaskan, stigma negatif terhadap ganja muncul karena status hukumnya di Indonesia yang masih dikategorikan sebagai narkotika golongan I. Selain itu, sejarah panjang penyalahgunaan ganja untuk tujuan rekreasional membuat masyarakat sulit membedakan antara penggunaan medis dan penyalahgunaan zat.
“Stigma negatif ganja muncul karena secara hukum masih termasuk narkotika golongan satu dan dianggap memiliki potensi ketergantungan tinggi. Ditambah lagi, penyalahgunaan ganja untuk mencari efek mabuk membuat masyarakat sulit memisahkan antara penggunaan medis dan narkoba,” ujar Noviana.
Dalam kesempatan tersebut, Noviana juga menegaskan bahwa narkoba, judi online, dan pinjaman online merupakan tiga persoalan berbeda, namun sering kali saling berkaitan dalam praktiknya. Menurutnya, kecanduan judi online dapat mendorong seseorang terjerat pinjaman online, bahkan berujung pada penyalahgunaan narkoba sebagai pelarian dari tekanan mental.
“Judi online dan pinjaman online bisa menjadi pemicu stres berat dan depresi. Tidak jarang, tekanan itu mendorong seseorang mencari jalan pintas dengan menggunakan narkoba, sehingga dampaknya bisa merusak diri sendiri dan keluarga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Noviana memaparkan dampak serius penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan. Ia menyebutkan bahwa narkoba dapat merusak sistem dopamin di otak, sehingga pengguna kehilangan kemampuan untuk merasakan kebahagiaan secara alami tanpa zat tersebut.
Terkait topik ganja medis, Noviana menekankan bahwa secara ilmiah ganja memiliki potensi manfaat kesehatan, namun penggunaannya harus berada dalam koridor medis dan pengawasan ketat tenaga kesehatan. Beberapa riset menunjukkan senyawa tertentu dalam ganja dapat membantu mengurangi kejang pada epilepsi berat, meredakan nyeri kronis, hingga mengurangi efek samping kemoterapi.
“Ganja memang memiliki potensi sebagai obat, misalnya untuk epilepsi tertentu, nyeri kronis, atau membantu pasien kanker. Namun ini bukan untuk konsumsi bebas. Penggunaannya harus melalui penelitian, regulasi, dan rekomendasi medis yang jelas,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Noviana mengajak generasi muda untuk lebih waspada dan kritis terhadap berbagai bentuk aktivitas berisiko. Ia menekankan pentingnya edukasi, dukungan keluarga, serta keterlibatan dalam kegiatan positif sebagai langkah pencegahan.
“Anak muda perlu dibekali pemahaman yang benar tentang bahaya narkoba, judi online, dan pinjaman online. Bangun komunikasi yang sehat di keluarga, salurkan energi ke kegiatan positif, dan jaga kesehatan mental agar tidak mudah terjerumus,” pungkasnya.
Melalui edukasi yang tepat dan berkelanjutan, Noviana berharap generasi muda mampu membedakan antara informasi ilmiah dan penyalahgunaan, sekaligus mengambil sikap bijak dalam menjaga masa depan mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....