Perpustakaan Dorong Digitalisasi Tingkatkan Literasi

  • 26 Jan 2026 15:38 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Pengelola perpustakaan Sumenep mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan literasi seiring perubahan pola baca masyarakat yang kini semakin bergeser ke platform digital. Pemanfaatan teknologi dinilai penting untuk menjawab tantangan rendahnya minat baca serta keterbatasan sumber daya dan anggaran.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Kabupaten Sumenep, Rudi Yuyiyanto mengatakan, selain penguatan layanan digital, pengelola juga mengusulkan adanya sistem keterhubungan antarperpustakaan, mulai dari tingkat kabupaten, kota hingga provinsi. Sistem tersebut diharapkan dapat memudahkan pertukaran koleksi dan layanan, serta memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.

Dalam upaya meningkatkan minat baca, perpustakaan juga mendorong program kunjungan wajib, baik ke sekolah, desa, maupun lembaga pendidikan lainnya. Program tersebut dirancang sebagai bagian dari kolaborasi dengan dunia pendidikan dan pemerintah desa, termasuk melalui kerja sama dan nota kesepahaman (MoU).

“Tujuannya untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini, tidak hanya pada anak-anak, tetapi juga masyarakat umum,” ujarnya, Jum’at 23 Januari 2026.

Saat ini, perpustakaan tercatat memiliki sekitar 84 ribu koleksi buku. Setiap tahun dilakukan pengadaan koleksi baru sesuai kemampuan anggaran. Sementara itu, buku-buku lama dan koleksi khusus disimpan di ruang tersendiri sebagai bahan dokumentasi dan aset perpustakaan.

“Minat baca konvensional cenderung stagnan dengan fluktuasi sekitar lima persen. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan gawai dan akses bacaan digital, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Meski demikian, perpustakaan terus berupaya beradaptasi dengan memperkuat literasi digital, literasi keuangan, dan bentuk literasi lainnya.

Untuk menjangkau masyarakat lebih luas, perpustakaan juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana sosialisasi dan edukasi. Keterbatasan jumlah pustakawan menjadi tantangan tersendiri, mengingat sebagian petugas belum memiliki latar belakang kepustakawanan.

“Kami mengajak masyarakat untuk kembali mencintai perpustakaan sebagai ruang belajar bersama. Perpustakaan dinilai bukan hanya milik pelajar, tetapi juga milik seluruh lapisan masyarakat sebagai sarana pengembangan pengetahuan dan peradaban.” Ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....