​Merajut Jejaring Perempuan Lewat "Kejhung Lintas Terop"

  • 09 Jan 2026 14:10 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep : Sri Cicik Handayani kembali melangkah lebih jauh dalam praktik artistiknya. Pada Juni 2026 mendatang, ia tengah mempersiapkan proyek seni berkelanjutan bertajuk "Kejhung Lintas Terop", sebuah tur pertunjukan sekaligus lokakarya yang berangkat dari tradisi Madura.

Kejhung, yang berarti nyanyian, dan terop, tenda-tenda pertunjukan rakyat, menjadi metafora perjalanan pengetahuan yang berpindah dari satu ruang ke ruang lain melalui tubuh dan suara perempuan.

Tur ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan, tetapi juga membuka ruang perjumpaan lintas disiplin.

Cicik menempatkan diri bukan semata sebagai koreografer atau sutradara, melainkan sebagai fasilitator jaringan kreatif. "Saya ingin tur ini menjadi ruang belajar bersama, bukan hanya panggung presentasi. Perempuan tandhak selalu berpindah, dan di situlah pengetahuan hidup serta menyebar," ujar Sri Cicik Handayani, Jumat (9/1/2026).

Konsep "Kejhung Lintas Terop" berakar pada praktik perempuan tandhak dan kesenian tayub Madura yang bergerak dari satu terop ke terop lain. Bagi Cicik, mobilitas tersebut bukan sekadar aspek teknis pertunjukan, melainkan strategi kultural dalam merawat ingatan kolektif.

"Perpindahan itu adalah cara bertahan. Tubuh menjadi arsip, dan nyanyian menjadi medium transmisi," sebut dia.

Dalam tur ini, Cicik mengajak seniman dari berbagai latar tari, musik, seni rupa, teater, hingga riset budaya untuk membaca ulang narasi tandhak dan tayub dalam konteks kontemporer. Kolaborasi lintas disiplin menjadi pintu masuk untuk membicarakan posisi perempuan, relasi kuasa, dan ruang publik hari ini.

"Saya tidak ingin tayub hanya dilihat sebagai warisan masa lalu. Ia harus berdialog dengan realitas sekarang," tutur Cicik.

Gagasan tur tersebut merupakan kelanjutan dari riset dan pementasan yang ia jalani sepanjang 2025. Pada 4 Juni 2025, Cicik mementaskan Tandhak dalam Rokat Pangantan, sebuah rekonstruksi ritual pernikahan adat Madura yang menempatkan perempuan tandhak sebagai subjek utama. Karya ini kemudian tercatat hak ciptanya pada 13 Agustus 2025, menandai pengakuan formal atas praktik artistik berbasis riset tradisi.

Perjalanan kreatifnya berlanjut pada 30 Juli 2025 melalui karya Atandhang di ArtJog Performance 2025. Di titik ini, pendekatan kolaboratif mulai tampak lebih kuat. Cicik menyebut fase tersebut sebagai momen pergeseran penting.

"Saya mulai menyadari bahwa tubuh saya tidak cukup jika berdiri sendiri. Kolaborasi membuka cara pandang baru atas tradisi yang saya hidupi," paparnya.

Eksplorasi tersebut semakin diperluas lewat Papangghiyan di Biennale Yogyakarta pada 19-24 September 2025. Karya ini hadir sebagai pameran instalasi sekaligus pertunjukan, mempertemukan tubuh, ritual, dan ruang presentasi artistik.

Bagi Cicik, Papangghiyan adalah eksperimen tentang bagaimana ritual dapat hidup di ruang seni kontemporer tanpa kehilangan akarnya.

Melalui rangkaian karya tersebut, Cicik konsisten menempatkan penelitian budaya sebagai fondasi penciptaan. Namun penelitian itu tidak berhenti pada refleksi tradisi semata. Ia berkembang menjadi praktik jejaring yang melibatkan banyak subjek dan disiplin.

"Saya percaya pengetahuan tidak lahir dari satu orang. Ia tumbuh dari pertemuan," tegasnya.

"Kejhung Lintas Terop" pun dirancang sebagai ruang temu: antara tradisi dan eksperimen, antara seniman dan komunitas, antara masa lalu dan masa kini. Tur ini diharapkan menjadi medium berbagi pengetahuan yang cair, sebagaimana praktik tandhak yang berpindah-pindah.

Dengan menjaga akar tradisi sekaligus membuka dialog kontemporer, Sri Cicik Handayani menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana membaca ulang identitas, tubuh, dan perubahan sosial. Melalui nyanyian yang melintas terop demi terop, ia merajut jejaring baru sebuah praktik berkelanjutan yang menempatkan perempuan, ritual, dan kolaborasi sebagai pusat percakapan artistik hari ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....