Kosabangsa Universitas Wiraraja Madura, Tingkatkan Produktivitas Usaha Tempe

  • 06 Nov 2025 19:42 WIB
  •  Sumenep

KBRN, Sumenep : Guna meningkatan produktivitas usaha tempe dan diversifikasi olahan produk tempe melalui penerapan paket teknologi pengolah tempe di kecamatan Lenteng kabupaten Sumenep, Universitas Wiraraja Madura dan Universitas Negeri Surabaya sebagai Pendamping dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai pemberi dana, melaksanakan Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat Kosabangsa Tahun 2025.

Ketua Pelaksana Kosabangsa Universitas Wiraraja Sumenep Dody Tri Kurniawan, SP, MMA mengatakan, Desa Lembung Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep merupakan salah satu daerah produksi tempe yang memiliki potensi ekonomi signifikan namun belum dioptimalkan.

“Program Kosabangsa ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Lembung Timur dan selaras dengan Peraturan Bupati Sumenep No. 43 tahun 2020 tentang Kawasan Perdesaan Kabupaten Sumenep serta RPJMD Kabupaten Sumenep 2024. Pemerintah desa memberikan ijin pelaksanaan dan membantu dalam proses identifikasi permasalahan mitra, evaluasi, dan monitoring program. ,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).

KWT Sumber Hasil sebagai pengolah keripik tempe

Dijelaskan, Program ini melibatkan dua mitra utama yaitu Kelompok Tani (KT) Al- Kausar sebagai produsen tempe utama mampu memproduksi 510 lembar tempe (plastik ½ kg) setiap harinya dengan jangkauan pemasaran di 5 lokasi meliputi pasar Kecamatan Lenteng, Saronggi, Desa Mandala Kecamatan Rubaru, Desa Aeng Dake Kecamatan Bluto, dan kepulauan Gili Genting. KT Al-Kausar (mitra pertama) yang bergerak di bidang perekonomian dengan fokus produksi tempe, dan KWT Sumber Hasil (mitra kedua) yang bergerak di bidang pertanian dengan fokus pengolahan keripik tempe.

“Aspek produksi pada mitra pertama menghadapi kendala rendahnya kualitas dan kuantitas pencucian kedelai dengan kapasitas hanya 100 kg/jam, proses pengupasan dan pemecahan kulit ari kedelai yang memakan waktu lama dan kurang higienis, serta pencampuran ragi yang dilakukan manual,” katanya.

Kelompok Tani (KT) Al- Kausar sebagai produsen tempe utama.

Sementara itu, KWT Sumber Hasil sebagai pengolah keripik tempe beranggotakan 43 orang mampu memproduksi 50 bungkus keripik tempe per hari dengan harga Rp 20.000 per bungkus. Meskipun memiliki potensi pasar yang luas, kedua mitra menghadapi keterbatasan dalam aspek produksi dan pemasaran yang menghambat peningkatan produktivitas dan pendapatan.

KWT Sumber hasil menghadapi masalah pengirisan keripik tempe secara manual menggunakan pisau dan penggorengan tradisional yang berdampak pada ketidakseragaman produk dan tingkat kematangan yang tidak merata.

“Aspek pemasaran kedua mitra terkendala belum adanya desain merek dan label pada kemasan yang menarik, serta kemasan yang mudah rusak karena tidak menggunakan sealer, sehingga segmentasi pasar masih terbatas pada pasar lokal tradisional,” ucapnya.

Menurut Dody, program ini bertujuan meningkatkan kuantitas produksi tempe sebesar 60% dan keripik tempe sebesar 50%, serta meningkatkan omzet penjualan kedua mitra sebesar 25% melalui penerapan teknologi tepat guna dan perbaikan strategi pemasaran.

“Target utama adalah mengoptimalkan rantai produksi hulu- hilir dari tempe hingga keripik tempe untuk meningkatkan nilai tambah produk dan daya saing di pasar yang lebih luas,” katanya.

Dody menambahkan, kegiatan ini menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan pelatihan dan pendampingan. Pelatihan yang akan diberikan meliputi desain kemasan yang menarik, strategi pemasaran digital, dan penyusunan laporan arus kas untuk kedua mitra. “Pendampingan dilakukan melalui bimbingan pengoperasian alat- alat teknologi tepat guna dan implementasi strategi pemasaran digital,” ucapnya.

Penerapan teknologi untuk mitra KT Al Kausar mencakup mesin pencuci kedelai dengan kapasitas 180 kg/jam, mesin pemecah dan pemisah kulit ari kedelai, serta mesin pencampur ragi otomatis. Untuk mitra KWT Sumber hasil diterapkan alat pengiris keripik tempe otomatis, alat penggoreng dengan spinner peniris minyak, dan mesin continuous sealer untuk kemasan yang lebih baik.

Dody berharap melalui Kosabangsa, Produk yang dihasilkan berupa peningkatan kuantitas dan kualitas tempe serta keripik tempe yang memenuhi standar pasar modern. Organisasi mitra akan mengalami penataan kelembagaan yang lebih baik dengan sistem manajemen yang terstruktur.

“Selain itu kami ingin Ekonomi terjadi peningkatan omzet 25% yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan anggota kedua kelompok mitra dan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan,” katanya.

Dalam Kegiatan Kosabangsa Universitas Wiraraja Madura juga dibagikan Bantuan alat yaitu :

1. Mesin pengaduk/pencampur/molen,

2. Mesin pemisah kulit ari kedelai kering 3 in 1 process (pengupas, pemecah dan pemisah kulit ari),

3. Mesin Pencuci Kedelai

4. Mesin pemotong/pengiris tempe otomatis,

5. Mesin penggoreng kripik tempe plus mesin spinner peniris minyak,

6. Continous Band Selaer.

Selain Dody Tri Kurniawan, SP, MMA sebagai ketua Pelaksana, tim Kosabangsa juga diperkuat oleh Ika Fatmawati P, S.TP, MP dan Dr. Moh. Herli, SE, M.AK, sedangkan Pendamping dari Universitas Surabaya (Unesa) yaitu Dr. Yunus, Prof. Tukiran dan Amalia Ruhana, SP, M.PH.

Sedangkan Kelompok Sasaran yaitu:

Kelompok Tani Al Kausar Desa Lembung Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep, dengan Ketua Kelompok M. Waji.

Kelompok Wanita Tani Sumber Hasil Desa Lembung Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep, dengan Ketua Kelompok Subaidah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....