Ramadhan dan Jejak Keteladanan Seorang Ibu

  • 03 Mar 2026 18:54 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Suasana rumah terasa berbeda ketika Ramadhan tiba. Ritme harian melambat, percakapan keluarga menghangat, dan waktu seakan memberi ruang lebih luas untuk saling mendekat.

Di tengah nuansa itu, penyair asal Sumenep, Benazir Nafilah Syamlan, menemukan makna bulan suci bukan hanya sebagai ibadah personal, melainkan momentum membangun karakter dari lingkup terkecil, keluarga.

Bagi perempuan yang dikenal lewat karya-karya puitisnya itu, Ramadhan 2026 menjadi kesempatan menata ulang prioritas. Kesibukan profesional yang biasanya menyita waktu, kini diimbangi dengan kehadiran lebih intens bersama anak-anak.

Ia memandang rumah sebagai ruang pendidikan pertama dan utama. Pendampingan ibadah, menurutnya, bukan sebatas mengingatkan jadwal salat atau puasa, tetapi menghadirkan kebersamaan yang tulus.

"Kesempatan bersama anak-anak terasa lebih utuh di bulan ini. Kita bisa mendampingi ibadah mereka secara langsung, bukan sekadar mengingatkan," cerita Benazir, Senin, 3 Maret 2026.

Momen berbuka dan sahur pun dimanfaatkan sebagai ruang dialog. Dari aktivitas sederhana seperti menyiapkan hidangan, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan kesabaran. Dapur dan meja makan menjadi medium pembelajaran yang alami. Selain itu, nilai kepedulian sosial turut ditanamkan.

Ramadhan dijadikan waktu yang tepat untuk mengenalkan makna berbagi secara nyata. Anak-anak diajak memahami bahwa setiap rezeki mengandung amanah untuk membantu sesama.

"Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari," kata Benazir.

Ia meyakini, interaksi ayah dan ibu dalam keseharian menjadi cermin yang akan direkam anak-anak sebagai referensi moral di masa depan. Terutama bagi anak laki-laki, pembiasaan nilai tanggung jawab dan kepemimpinan perlu ditanamkan sejak dini.

Ramadhan, menurut Benazir, menghadirkan struktur kehidupan yang lebih tertata. Jadwal ibadah yang teratur dan kebersamaan keluarga menghadirkan suasana rumah yang lebih hangat dan bercahaya.

"Ada keindahan tersendiri saat membangunkan anak sahur. Itu bukan sekadar rutinitas, melainkan cara menghadirkan cinta dalam tindakan," tuturnya.

Bagi Benazir, Ramadhan adalah ruang perawatan nilai. Dari rumah, ia menanam benih keteladanan, dengan keyakinan bahwa pendidikan terbaik selalu dimulai dari kebersamaan yang sederhana namun bermakna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....