Mencermati Tujuan Puasa dalam Maqashid As-Shaum

  • 23 Feb 2026 13:59 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Di tengah rutinitas Ramadan yang kerap dipenuhi agenda buka bersama dan perdebatan seputar hukum fikih, satu pertanyaan mendasar sering luput dari perhatian: untuk apa sebenarnya kita berpuasa?

Pertanyaan itu dijawab secara tajam oleh ulama besar mazhab Syafi‘i, Izzuddin ibn Abd al-Salam, dalam risalahnya Maqashid as-Shaum. Melalui pendekatan maqashid (tujuan-tujuan syariat), ia mengajak umat Islam memahami puasa bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan sarana transformasi jiwa.

Karya sekitar 31 halaman itu, kembali dikaji oleh masyarakat di Kabupaten Sumenep. Sejumlah warga mengikuti pengajian kitab Maqashid as-Shaum secara daring melalui grup WhatsApp. Kajian ini diasuh oleh KH. Abwasik Baijuri dan diikuti sekitar 96 peserta.

Menurut KH. Abwasik Baijuri, pengajian ini digelar sebagai bekal menjelang Ramadan. “Harapannya puasa yang kita jalanani bisa lebih khuyu’ dan bermakna,” ujarnya.

Melampaui Lapar dan Haus

Dalam karyanya, Izzuddin menegaskan bahwa syariat tidak pernah ditetapkan tanpa tujuan. Puasa, menurutnya, bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi sarana melemahkan dominasi hawa nafsu.

Lapar dipandang sebagai alat pendidikan. Ketika tubuh dikurangi asupan yang biasa, dorongan syahwat ikut mereda. Dalam kondisi itulah hati memiliki ruang untuk menguat. Puasa menjadi latihan pengendalian diri yang sistematis dan terarah.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Dalam perspektif maqashid, ketakwaan bukan sekadar label spiritual, melainkan hasil dari disiplin diri yang konsisten.

Pendidikan Jiwa yang Terstruktur

Berbeda dengan pembahasan fikih yang menitikberatkan pada hal-hal yang membatalkan puasa, Maqashid as-Shaum menyoroti apa yang seharusnya dibangun oleh puasa.

Izzuddin menjelaskan bahwa manusia cenderung mengikuti dorongan instingtif: makan ketika lapar, minum ketika haus, dan memenuhi keinginan saat muncul. Puasa membalik pola itu. Ia mengajarkan manusia untuk mampu berkata “tidak” pada dorongan paling dasar sekalipun.

Dalam konteks ini, puasa adalah pendidikan kebebasan sejati—bukan bebas mengikuti nafsu, tetapi bebas dari perbudakan nafsu.

Empati Sosial sebagai Dampak Nyata

Selain dimensi spiritual, Izzuddin juga menekankan aspek sosial puasa. Lapar bukan hanya pengalaman biologis, tetapi pengalaman moral. Orang yang terbiasa kenyang dipaksa merasakan perihnya perut kosong.

Dari pengalaman itu lahir empati. Puasa mendorong solidaritas terhadap fakir miskin, bukan semata melalui zakat, tetapi melalui kesadaran batin bahwa rasa lapar adalah realitas harian sebagian masyarakat.

Dengan demikian, puasa membentuk kepekaan sosial, bukan sekadar kesalehan individual.

Relevansi di Era Konsumerisme

Pemikiran Izzuddin terasa semakin relevan di tengah budaya konsumtif modern. Iklan makanan, diskon besar-besaran, hingga konten kuliner justru memuncak saat Ramadan. Alih-alih menjadi bulan kesederhanaan, Ramadan sering berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan.

Di sinilah maqashid puasa diuji. Jika tujuan puasa adalah melemahkan syahwat, maka berlebihan dalam berbuka justru dapat mengaburkan ruh ibadah itu sendiri. Puasa yang seharusnya mendidik kesederhanaan bisa kehilangan makna jika hanya menggeser waktu makan tanpa mengubah cara pandang terhadap makan.

Menemukan Kembali Ruh Puasa

Enam abad setelah wafatnya, gagasan Izzuddin ibn Abd al-Salam tetap relevan. Di tengah perubahan zaman, manusia masih bergulat dengan nafsu, ego, dan kecenderungan berlebihan.

Melalui Maqashid as-Shaum, puasa dipahami sebagai terapi tahunan untuk menata ulang keseimbangan jiwa. Ramadan bukan sekadar menahan lapar dari fajar hingga maghrib, melainkan momentum memperbaiki hubungan manusia dengan dirinya, dengan sesama, dan dengan Tuhan.

Ketika tujuan dipahami, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai jalan menuju kematangan ruhani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....