Tradisi Pesisir, Tradisi Warga Sapeken Sambut Ramadan
- 18 Feb 2026 20:33 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Masyarakat Pulau Sapeken, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memiliki cara tersendiri dalam menyambut Ramadan. Tradisi yang lekat dengan laut dan kebersamaan komunal menjadi pembeda suasana Ramadan di wilayah kepulauan dibandingkan daerah perkotaan.
Menjelang bulan suci, warga berbondong-bondong berkumpul di pesisir pantai. Mereka datang bersama keluarga dan teman, membawa makanan dari rumah masing-masing. Tikar digelar di tepi pantai, lalu seluruh hidangan diletakkan di tengah untuk disantap bersama tanpa sekat kepemilikan.
“Menjelang Ramadan, warga berbondong-bondong ke pesisir pantai. Mereka datang bersama keluarga dan teman. Tikar digelar, makanan dibawa dari rumah masing-masing, lalu semua hidangan diletakkan di tengah,” ujar Kader Himpunan Mahasiswa Kepulauan Sapeken (Himpass) angkatan 25, Ferry Irawan, Rabu, 18 Februari 2026.
Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, melainkan simbol solidaritas masyarakat pesisir. Angin laut, debur ombak, serta percakapan hangat menjadi pembuka Ramadan dengan suasana sederhana namun penuh makna.
Kearifan lokal juga tercermin dari pola kerja nelayan. Di Sapeken, nelayan memiliki tradisi tidak melaut selama sekitar satu minggu pertama Ramadan. Sebelum bulan puasa tiba, mereka menangkap ikan lebih banyak sebagai persiapan. Tradisi turun-temurun ini menjadi bentuk penghormatan terhadap bulan suci.
Setelah pekan pertama, nelayan kembali melaut dengan pola berbeda. Mereka berangkat menjelang waktu berbuka dan berbuka puasa di atas kapal. Momen azan magrib di tengah laut dengan matahari terbenam di cakrawala menghadirkan pengalaman spiritual tersendiri.
Tradisi membangunkan sahur pun dilakukan secara unik. Anak-anak muda berkumpul sekitar pukul dua dini hari, membawa obor sederhana dari kain yang dicelup bahan bakar, serta memukul drum yang diangkut menggunakan gerobak. Sebagian warga memanfaatkan kaleng bekas berlubang yang diberi lilin sebagai penerangan.
Gotong royong masyarakat Sapeken juga tergolong kuat. Sistem berbagi makanan berbuka dilakukan secara bergiliran, bahkan oleh keluarga yang secara ekonomi sederhana. Solidaritas lintas pulau pun tampak ketika warga bersama-sama mencari kapal yang hilang menjelang Idul Fitri.
Menjelang Lebaran, pasar Sapeken menjadi pusat pergerakan ekonomi. Warga dari pulau-pulau sekitar datang menggunakan kapal untuk berbelanja kebutuhan hari raya, menjadikan Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga pengikat sosial masyarakat kepulauan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....