Ramadan Kepulauan, Tradisi Laut Pererat Kebersamaan Warga
- 18 Feb 2026 08:02 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Suasana Ramadan di wilayah kepulauan memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan kota. Jika di daratan patroli sahur, masyarakat kepulauan menghadirkan tradisi yang lebih lekat dengan laut dan kebersamaan komunal.
Di Pulau Sapeken, tradisi menyambut Ramadan dilakukan dengan berkumpul di pesisir. Warga datang berkelompok bersama keluarga maupun teman, membawa makanan dari rumah masing-masing. Tikar digelar di tepi pantai, lalu seluruh hidangan diletakkan di tengah untuk disantap bersama tanpa sekat kepemilikan.
"Menjelang Ramadan, warga berbondong-bondong ke pesisir pantai. Mereka datang bersama keluarga dan teman. Tikar digelar, makanan dibawa dari rumah masing-masing, lalu semua hidangan diletakkan di tengah." ujar Ferry Irawan kader himpass angkatan 25
Tradisi ini bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan masyarakat pesisir. Angin laut, debur ombak, dan percakapan hangat menjadi pembuka bulan suci ramadhan dengan suasana yang intim dan sederhana.
Berbeda dengan Sapeken, masyarakat Desa Tanjung Kiaok memiliki kebiasaan berbagi makanan ke tetangga dan masjid sebelum Ramadan tiba. Warga saling mengantar hidangan sebagai bentuk silaturahmi. Setelah itu, masyarakat biasanya berkumpul di masjid untuk doa bersama.
"Di Desa Tanjung Kiaok tradisi menyambut Ramadan dilakukan dengan berbagi makanan ke tetangga dan masjid, Warga mengantar nasi, lauk, dan jajanan ke rumah-rumah sekitar. Setelah itu, masyarakat berkumpul di masjid untuk doa bersama, Nilai silaturahmi sangat kuat, ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial." kata Revi Mariska Saputri kader himpass angkatan 25
Kearifan lokal juga terlihat dari pola kerja para nelayan. Di Sapeken, nelayan memiliki tradisi tidak melaut selama sekitar satu minggu pertama Ramadan. Sebelum bulan puasa tiba, mereka menangkap ikan sebanyak-banyaknya sebagai persiapan. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap Ramadan.
Setelah pekan pertama, nelayan kembali melaut dengan pola berbeda. Mereka berangkat menjelang waktu berbuka dan berbuka puasa di atas kapal. Momen menikmati azan magrib di tengah laut, dengan matahari terbenam di cakrawala, menjadi pengalaman spiritual yang sulit tergantikan.
Tradisi membangunkan sahur juga memiliki ciri khas tersendiri. Anak-anak muda berkumpul sekitar pukul dua dini hari. Mereka membawa obor sederhana dari kain yang dicelup bahan bakar, serta memukul drum yang diangkut dengan gerobak.
Sebagian warga bahkan menggunakan kaleng bekas yang dilubangi dan diberi lilin sebagai penerangan. Alat sederhana itu menjadi simbol kreativitas sekaligus kearifan lokal yang masih lestari hingga kini.
Gotong royong masyarakat kepulauan pun tergolong kuat. Sistem berbagi makanan berbuka dilakukan secara bergiliran, bahkan oleh keluarga yang secara ekonomi tergolong sederhana. Solidaritas lintas pulau juga tampak ketika warga bersama-sama mencari kapal yang hilang menjelang Idul Fitri.
Menjelang Lebaran, pasar di Sapeken menjadi pusat pergerakan ekonomi. Warga dari pulau-pulau sekitar datang menggunakan kapal untuk berbelanja kebutuhan hari raya. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga pengikat sosial masyarakat kepulauan.
Ramadan di kepulauan bukan sekadar perayaan ritual. Ia adalah pertemuan antara iman, laut, dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....