Awal Ramadan Beda? Ini Penjelasan dan Imbauannya

  • 17 Feb 2026 13:17 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Perbedaan hari pertama puasa Ramadan kembali menjadi perhatian umat Islam setiap tahunnya. Perbedaan ini umumnya terjadi karena adanya metode penentuan yang tidak sama, antara hisab dan rukyatul hilal.

Perbedaan penetapan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah terletak pada metode yang digunakan. Hal ini disampaikan Guru Binar JHS, Abd. Rahman Romadhon, Selasa, 17 Februari 2026. Menurutnya, Muhammadiyah saat ini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Melalui KHGT, penentuan awal bulan hijriah didasarkan pada perhitungan hisab secara global. Artinya, jika di salah satu wilayah dunia hilal secara hitungan astronomis sudah berpotensi terlihat, maka seluruh dunia dinyatakan masuk tanggal satu. Tahun ini, berdasarkan perhitungan, posisi hilal di Alaska, Amerika Serikat, telah memenuhi kriteria tersebut.

Karena itu, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan dimulai pada malam hari, waktu Maghrib, 17 Februari 2026 dan keesokan harinya 18 Februari sudah berpuasa. Sementara itu, pemerintah dan Nahdlatul Ulama didalamnya menggunakan metode rukyatul hilal, yakni melihat hilal secara langsung. Penetapan resmi Indonesia dilakukan melalui sidang isbat.

Secara hisab di wilayah Indonesia, posisi hilal masih berada di bawah ufuk, yakni minus sekitar satu derajat. Dengan kondisi tersebut, hilal diperkirakan tidak mungkin terlihat, baik saat cuaca cerah maupun mendung. Namun keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

Abd. Rahman Romadhon menyarankan masyarakat memilih satu acuan dan konsisten hingga Idul Fitri. Jika mengikuti Muhammadiyah sejak awal, maka sebaiknya mengikuti hingga penetapan Idul Fitri. Begitu pula jika mengikuti pemerintah atau NU, hendaknya tetap pada keputusan tersebut sampai akhir.

Ia mengingatkan agar tidak terjadi talfiq, yakni mencampuradukkan beberapa mazhab dalam satu rangkaian ibadah. Selain itu, bulan hijriah minimal berlangsung 29 atau 30 hari. Ketidakkonsistenan dapat berpotensi membuat jumlah puasa kurang dari ketentuan syariat.

Menurutnya, perbedaan awal Ramadan merupakan hal yang kerap terjadi setiap tahun. Kadang penetapan berlangsung bersamaan, kadang berbeda. Karena itu, ia mengimbau agar perbedaan tersebut tidak menjadi bahan perdebatan.

Yang lebih utama adalah mempersiapkan diri menyambut Ramadan secara lahir dan batin. Secara lahir, umat Islam perlu menjaga kesehatan serta meningkatkan kualitas ibadah. Secara batin, penting memperdalam ilmu tentang puasa agar tidak keliru dalam menjalankannya.

Ia juga mengingatkan pesan Rasulullah tentang orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus. Oleh sebab itu, pemahaman yang benar mengenai hal-hal yang membatalkan puasa sangat diperlukan. Ramadan juga menjadi momentum memperbaiki hubungan sosial, saling memaafkan, dan menghargai perbedaan pendapat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....