BMKG Sumenep Tekankan Keseragaman Waktu Ibadah Jelang Ramadan

  • 16 Feb 2026 20:13 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Menjelang penetapan 1 Ramadan, BMKG menegaskan pentingnya keseragaman standar waktu sebagai dasar ketenangan beribadah masyarakat. Kepala Stasiun Trunojoyo Madura, Ari Widjajanto, menyatakan bahwa secara ilmiah, penentuan waktu Subuh berkaitan dengan fenomena astronomi, namun dalam konteks ibadah harus melalui kesepakatan lintas lembaga.

Menurut Ari, BMKG memang memiliki kewenangan dalam bidang tanda waktu dan standar waktu nasional yang mengacu pada sistem internasional. Namun, untuk penetapan waktu ibadah seperti imsak dan Subuh, BMKG tidak berdiri sendiri. Penentuan dilakukan bersama Kementerian Agama dan pemangku kepentingan lainnya agar tidak menimbulkan perbedaan di tengah masyarakat.

“Yang paling utama adalah menyeragamkan waktu terlebih dahulu. Kalau waktunya sudah sama, maka pelaksanaan ibadah juga akan seragam,” ujarnya, Senin 16 Februari 2026.

Ia menambahkan, keseragaman waktu penting agar tidak terjadi perbedaan azan antarwilayah dalam satu daerah yang sama. BMKG bersama Kementerian Agama telah menyusun kalender waktu ibadah yang menjadi pedoman bersama, termasuk menjelang Ramadan.

Dalam menyambut Ramadan, BMKG juga menjalin kolaborasi dengan RRI untuk memastikan akurasi waktu siaran azan dan penanda berbuka puasa. Ari menjelaskan, tim pelayanan data dan informasi BMKG telah melakukan sinkronisasi waktu di RRI agar sesuai dengan standar jam resmi BMKG.

Menurutnya, siaran radio masih menjadi rujukan masyarakat, termasuk masjid-masjid di Sumenep, dalam menentukan waktu berbuka dan imsak. Karena itu, ketepatan waktu siaran dinilai penting demi menjaga keseragaman dan kehati-hatian dalam beribadah.

Selain melalui radio, Ari juga mendorong agar platform siaran langsung seperti YouTube maupun media sosial dapat menampilkan penunjuk waktu yang telah terverifikasi agar masyarakat dapat mencocokkan jam secara langsung.

Terkait kondisi geografis Madura, Ari menyebut wilayah tersebut relatif datar sehingga secara topografi cukup mendukung pengamatan fenomena astronomi. Namun, faktor cuaca masih menjadi tantangan karena saat ini masih berada dalam periode musim hujan yang berpotensi mengganggu visibilitas.

Meski demikian, ia memastikan BMKG turut dilibatkan dalam kegiatan pengamatan hilal bersama unsur terkait. Untuk penentuan titik pengamatan, kewenangan lebih lanjut berada di Kementerian Agama, sementara BMKG memberikan dukungan dari sisi data meteorologi dan astronomi.

Menjelang Ramadan, Ari mengajak masyarakat menyambut bulan suci dengan penuh sukacita sekaligus memastikan ketepatan waktu ibadah dengan merujuk pada standar resmi. Ia menekankan pentingnya menggunakan waktu yang telah terkalibrasi dan disepakati bersama agar pelaksanaan ibadah berlangsung tenang dan nyaman.

“Dengan waktu yang seragam dan akurat, masyarakat bisa beribadah dengan lebih khusyuk tanpa keraguan,” katanya.

BMKG, lanjutnya, akan terus mendukung upaya sinkronisasi waktu demi menjaga ketertiban dan keseragaman pelaksanaan ibadah di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....